MEPOSISIKAN ANAK DALAM KEMULIAAN - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Senin, 21 Maret 2016

MEPOSISIKAN ANAK DALAM KEMULIAAN

Manusia adalah makhluk lemah yang banyak kebutuhannya, jasmani atau rohani. Apabila kebutuhan-kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan sempurna maka manusia akan merasa nyaman, tentram dan bahagia dalam hidupnya. Sebaliknya apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut terkurangi dan tidak dapat terpenuhi secara maksimal atau hanya terpenuhi sebagian maka hidupnya akan merasa susah, tertekan dan menderita, bahkan pada kasus tertentu akan berakibat terciptanya sikap menentang,tindakan kriminal,kekerasan, konflik sosial,  serta perilaku buruk lainnya.

Anak adalah sosok manusia kecil. Mereka juga membutuhkan kebutuhan jasmani dan rohani. Perkembangan fisik dan mental mereka tergantung dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka. Perkembangan fisiknya akan terhambat apabila kebutuhan gizinya tidak terpenuhi dengan baik. Begitu pula perkembangan mentalnya akan mengalami kekacauan apabila kebebasan dan kesenangannya dibatasi secara berlebihan, prestasi dan usahanya tidak dihargai dengan baik, tidak mendapat kasih sayang dan diperlakukan secara keras. Banyak anak yang mengekpresikan kekacauan mental mereka dengan menjadi anak yang bandel, tidak patuh bahkan cenderung melakukan tindakan kriminal, tawuran dan  bahkan pembunuhan yang akhir-akhir ini beritanya banyak menghiasi media, baik elektronik, internet ataupun cetak.

Para orang tua maupun guru mempunyai peran utama dalam mengarahkan mereka agar menjadi orang yang bertanggung jawab kepada Allah ﷻ dan masyarakat sehingga mereka mampu menjalankan tugas menggantikan orang-orang dewasa suatu ketika nanti.

Sebaik-baik model pendidikan bagi orang muslim adalah pendidikan menurut konsep Rosulullah Muhammad ﷺ. Dari  pendidikan Beliau terlahirlah manusia-manusia pilihan yang menjadi cahaya umat. Terlahirlah sahabat-sahabat Beliau yang manjadi penerus dalam menyampaikan syari'at Allah ﷻ setelah beliau wafat. Diantara mereka adalah Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang menjadi ahli  fiqih dan ahli tafsir yang bergelar Turjumanul Qur'an ( Penafsir Al-Qur'an) yang diharapkan fatwa-fatwanya bagi umat dulu maupun sekarang.

Interaksi Rosulullah ﷺ dengan Ibnu Abbas sebagai seorang anak kecil menunjukkan sifat sejati beliau sebagai seorang pendidik. Langkah-langkah Beliau dalam bergaul melahirkan sebuah model pendidikan yang mengandung konsep memuliakan anak. Dua riwayat hadist berikut memberi gambaran konsep Beliau ﷺ:

عن ابن عباس: أَنَّ النَّبِيَ ﷺ دَخَلَ الْخَلَاءَ ، فَوَضَعْتُ لَهُ وَضُوْءًا ، قَالَ : مَنْ وَضَعَ هَذَا . فَأُخْبِرَ ، فَقَاَل :اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
     
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, bahwasanya Nabi ﷺ masuk WC, lalu saya meletakkan air wudlu untuknya, Beliau bertanya : siapa yang meletakkan ini?. Maka beliau ﷺ diberitahu, lalu Beliau  berdo'a : Ya Allah berilah dia kemampuan memahami agama. (HR Bukhori no:143, Muslim no: 2477)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسَ قَالَ: ضَمَّنِي رَسُوْلُ اللهِ ﷺ وَقَالَ : اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, dia berkata: Rosululah ﷺ memelukku, lalu berdo'a : Ya Allah ajarilah dia al-Kitab (al-Qur'an) . (HR. Bukhori  no: 75 & no. 6842)

Setidaknya ada empat poin yang dapat dijelaskan mengenai kandungan dua hadist tersebut yang menggambarkan pola pendidikan Rosulullah terhadap anak, diantaranya :

1.    Menghargai prestasi dan usaha anak.

Ketika Ibnu Abbas menyediakan air wudlu untuk Rosulullah maka beliau memberikan kepadanya penghargaan do'a yang merupakan setinggi-tingginya penghargaan. Imam Abut Thoyyib Shidiq Hasan Ali al-Qonuji  رحمه الله berkata: Sesungguhnya alasan Rosulullah ﷺ mendo'akan Ibnu Abbas adalah karena:  yang pertama, Beliau mengetahui kecerdasannya meskipun usianya masih muda yaitu tindakannya meletakkan air wudlu di samping WC yang memudahkan Beliau ﷺ. Karena kalau dia meletakkanya di tempat yang jauh tentu membuat Beliau ﷺ bersusah payah mendapatkan air tersebut, dan jikalau dia masuk ke dalam WC tentu dia akan melihat Rosulullah sedang menunaikan hajat. Dan yang kedua, karena meletakkan air wudlu termasuk menolong agama maka patutlah Beliau ﷺ mendo'akannya agar memiliki kemampuan dalam memahami agama sehingga dia dapat mengetahui rahasia-rahasia fiqih Islam sekaligus dapat memanfaatkannya. ('Aunul Bari :1/298)

Apa yang disampaikan imam al-Qunuji رحمه الله tersebut menjelaskan bahwa prestasi kecerdasan dan kebaikan yang dilakukan oleh Ibnu Abbas dibalas oleh Rosulullah dengan penghargaan do'a. sebuah hadiah yang membanggakan bagi seorang anak. Hadiah yang membuat anak tersebut merasa eksistensinya dihargai dan tidak diremehkan.Sebuah penghargaan yang menjadi motivator semangat anak untuk terus berprestasi dan berbuat baik serta menyingkirkan sikap putus asa dan rasa malas mereka.

Banyak cara yang dapat dilakukan dalam menghargai prestasi dan kebaikan anak. Salah satunya dengan memberikan hadiah materi terhadap anak. Pemberian hadiah ini akan memotivasi anak agar terus semangat meningkatkan prestasinya dan tidak akan bosan melakukan kebaikan sekecil apapun karena dia merasa apa yang dilakukannya tidaklah sia-sia, dia merasa menjadi manusia utuh yang dihargai jerih payahnya.Pemberian hadiah juga akan menimbulkan rasa cinta dalam hati anak terhadap orang tua atau pendidiknya. Rosulullah bersabda:

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا
 "Berbagi-bagi  hadiahlah, maka  kalian akan saling mencintai" (HR. Bukhori dalam adabul Mufrod: 594, al-Baihaqi: 6/169, dihasan oleh imam al-Albani dalam Irwa' al-Gholil: 1601)

Namun pemberian hadiah ini harus mempertimbangkan baik buruknya bagi perkembangan anak. Jangan sampai tambah menjadikan anak bermental materialis yang mengukur semua prestasi dan kebaikannya dengan materi. Maka dari itu orang tua atau pendidik harus bersikap bijak dalam masalah ini.

2.    Mendo'akan

Rosulullah mendo'akan kebaikan bagi Ibnu Abbas baik ketika dia berbuat baik ataupun tanpa melakukan suatu apapun seperti dalam riwayat kedua. Ini menunjukkan bahwa ciri pendidik sejati bukanlah hanya mendidik dan mengajari anak semata, namun juga mendoakan  kebaikan bagi anak apapun keadaannya, baik dia anak yang baik dan patuh ataupun dia anak yang bandel dan nakal tanpa membeda-bedakan latar belakang dan keadaan mereka, semuanya mempunyai kedudukan yang sama untuk memperoleh do'a. Imam al-Aini  رحمه الله berkata : “dalam hadist tersebut disunahkan menghadiahi do'a”('Umdatul Qori : 2/417)

Do'a adalah bentuk tawakal kepada Allah ﷻ. Usaha yang dilakukan seseorang tidaklah sempurna tanpa diiringi dengan do'a yang merupakan pengharapan agar apa yang dilakukannya dapat terwujud. Manusia itu lemah tidak bisa meraih apa yang di inginkan tanpa kekuasan Allah ﷻ. Maka Do'a juga memegang peran penting dalam membina anak agar menjadi orang yang baik dan berguna bagi masyarakat.
Seorang anak yang mendengar bahwa orang tua atau gurunya mendoakannya akan merasa bahwa orang-orang di sekitarnya menaruh harapan bagi dirinya untuk menjadi baik.  Maka lambat laun akan tumbuh rasa optimisme dalam meningkatkan prestasi dan kebaikannya, dan berusaha untuk menjauhi sikap-sikap negatif yang akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

3.    Mengajari ilmu agama

Do'a yang diucapkan Rosulullah untuk Ibnu Abbas adalah pengharapan Beliau agar Ibnu Abbas memiliki ilmu-ilmu agama dan tafsir al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Beliau dalam mendidik anak adalah dengan mengajari ilmu agama, membimbing mereka dalam memahami al-Qur'an dan sunnah-sunnahnya yang merupakan sumber utama ilmu agama.

Seorang anak yang diberi bimbingan ilmu agama yang cukup akan membentuk menjadi pribadi yang beriman dan bertanggung jawab. Mereka akan meyakini bahwa apa yang dilakukannya di dunia ini akan mereka pertanggung jawabkan di hadapan Allah ﷻ kelak di hari kiamat. Mereka meyakini perbuatan baik yang mereka lakukan akan mendapatkan balasan pahala surga di sisi Allah ﷻ Swt sehingga timbul spirit dalam dirinya untuk terus taat kepada Allah ﷻ dengan beribadah dan berkarya untuk masa depan mereka di akhirat. Begitupula, mereka akan merasa takut disiksa di neraka apabila melakukan perbuatan buruk, melanggar larangan-Nya dan meninggalan perintah-perintah-Nya. Dengan begitu mereka akan berusaha sekuat tenaga agar tidak berbuat kejahatan yang menyakiti orang lain. Sebaliknya seorang anak yang jauh dari ilmu agama akan bersikap ekstrim dan tak bertanggung jawab, Apatis terhadap lingkungannya, cuek dengan apa yang dilakukannya, menentang, tak memperdulikan apakah perbuatannya merugikan dirinya sendiri dan orang lain tidak ada perasaan menyesal sedikitpun dengan perbuatan buruk yang dilakukannya walaupun itu menyakiti orang lain bahkan menghilangkan nyawa orang lain seperti kasus tawuran pelajar yang terjadi akhir-akhir ini.

Ini bukan hanya tugas orang tua dan guru, namun pemerintah juga berperan dalam menentukan pengajaran agama bagi anak didik karena pemerintahlah yang menentukan kurikulum bagi system pendidikan di negeri ini. Dengan kurangnya alokasi waktu bagi pendidikan agama akan menjadi pintu rusaknya moral dan karakter bangsa. Maka dari itu kurikulum di negeri ini jangan hanya mengedepankan kemampuan kognitif saja dan mengabaikan aspek afektifnya seperti yang terlihat dalam sistem saat ini, siswa hanya belajar dengan target untuk dapat lulus ujian nasional saja. Begitu pula mempelajari ilmu agama bukan hanya dilakukan sepintas lalu tanpa ada kesungguhan dalam mendalaminya. Kalau hanya dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh mana mungkin ada kesungguhan anak didik untuk mengaplikasikan ilmu tersebut dalam tingkah lakunya sehari-hari.

4.    Sentuhan kasih sayang dan perhatian.

Dalam riwayat kedua  di atas Rosulullah ﷺ memeluk Ibnu Abbas. Inilah bentuk kasih sayang dan perhatian Beliau  ﷺ terhadap anak kecil.  Ini menggambarkan bahwa Beliau menyayangi anak kecil. Beliau menyentuhnya agar anak tersebut merasakan kasih sayang dari pendidiknya.Bahkan Rosulullah pernah menyindir orang yang tidak pernah mencium anaknya dengan sindiran akan dicabutnya rasa kasih sayang dari dalam hatinya dan tidak akan disayangi oleh anak.

Imam al-Qonuji  رحمه الله berkata: “maka yang dapat diambil faedah dari hadist tersebut adalah bolehnya memeluk anak kerabat (keluarga) untuk memberinya kasih sayang.”('Aunul Bari : 1/ 210)

Dekapan, kasih sayang, sentuhan dan perhatian yang cukup  dari orang tua dan guru akan memberi kemudahan dalam mengontrol anak sehingga ketika dia diperintah untuk berbuat baik maka dia menurut dan tidak membangkang. Begitu pula kalau diajari ilmu, dia akan mendengar dan tekun belajar sehingga mudah menerima pelajaran yang disampaikan. Seorang anak yang kurang perhatian dan kasih sayang akan cenderung liar dan membangkan. Akhlaqnya tidak bisa terkontrol dengan baik sehingga anak tersebut akan terkesan bandel bahkan banyak melakukan tindakan kriminal. Berapa banyak anak di perkotaan dan pedesaan yang menunjukkan gejala penentangan terhadap hukum-hukum agama karena kurangnya perhatian dan kasih sayang. Orang tua sibuk urusan pribadi  tidak peduli dengan urusan anaknya sedangkan guru hanya mengajar mata pelajaran tanpa memperhatikan mentalnya dengan mendidik dan membina perilaku dan moralnya.

Dekapan dan sentuhan ini tidak bersifat mutlak. Seorang guru harus bersikap bijak dalam hal ini agar tidak menimbulkan hal-hal negatif lainnya. Dekapan atau sentuhan  yang dilakukan tanpa batasan dan norma tertentu akan menimbulkan syahwat, persepsi negative bahkan pelecehan seksual bagi anak didik yang akan berakibat buruk pula bagi perkembangan mental anak. Imam al -Aini  رحمه الله berkata : “Dalam hadist tersebut disunahkan merangkul yaitu memeluk anak kecil atau orang yang baru datang dari safar (perjalanan) atau yang lainnya. Namun menurut al-Baghowi terlarang, yang kami pilih diperbolehkan dengan syarat tidak menimbulkan syahwat, inilah  madzhab syafi'i. Dan madzhab Abu Hanifah membolehkan dengan syarat memakai baju, sedangkan imam Abu Manshur al- Maturudi berpendapat bahwa memeluk yang dilarang adalah yang menimbulkan syahwat sedangkan untuk berbuat baik dan memberi penghormatan maka diperbolehkan.” ('Umdatul Qori : 1/101).
Rosulullah ﷺ juga memberi batasan dalam hal ini, Beliau bersabda :

لِأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أنْ يَمَسَّ اِمْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهَ
“Sungguh kepala laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR. ath-Thobaroni dalam Mu’jam Kabir : 20/210, dishohihkan oleh Imam al-Albani dalam as-Shohihah no. 226)

Yang paling penting dalam aspek ini adalah perhatian dan komunikasi. Orang tua atau guru harus mampu berperan sebagai patner bagi anak yang mampu memecahkan masalah anak. Mereka harus mampu menjadi tempat keluh kesah bagi siswa yang mengalami masalah-sosial dan pskilogis serta mampu mencarikan solusi bagi permasalahan mereka dalam bentuk riil.

Itulah kiat Rosulullah ﷺ dalam mendidik anak. Yang dapat diambil kesimpulan darinya adalah anak akan berkepribadian sesuai dengan perlakuan pendidik dan orang tua terhadap mereka. Anak yang diperlakukan seperti hewan maka akan mementuk karakter dan moral hewan dalam dirinya begitu pula kalau mereka diperlakukan layaknya sebagai manusia yang utuh, dihormati dan dimuliakan maka mereka akan membentuk menjadi manusia yang bermartabat, berkarakter sebagaimana manusia yang beragama dan berperadaban. Wallahu a'lam bisshowab.

Oleh Abu Hasan as-Syihaby
Ba’da Ashar di sudut barat laut kabupaten Lamongan Jatim, Senin,11Jumadits Tsani 1437 H/ 21 Maret 2016 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.