Imam Ahmad Dimintai Pendapat Untuk Berbuat Makar Kepada Pemerintah Muslim - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Selasa, 26 April 2016

Imam Ahmad Dimintai Pendapat Untuk Berbuat Makar Kepada Pemerintah Muslim

Bagi kebanyakan orang, ketika menghadapi pemerintahan dzolim dan bengis maka mereka  akan cenderung mengingkari dan membencinya bahkan akan berusaha menyingkirkan atau mengkudetanya. Sedangkan bagi orang yang mempunyai ghiroh (semangat) agama yang kuat, bukan hanya kediktatoran pemimpin yang mereka benci, namun penyelewengan pemimpin dari  syari’at Islam juga akan membuat mereka membenci pemerintahan itu.

Namun demikian, bukan berarti syri’at mengajarkan untuk berbuat makar (memberontak) terhadap pemerintah muslim.

Pada masa Imam Ahmad bin Hanbal, pemerintah  memaksakan kehendak kepada rakyatnya untuk meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Mereka mencambuk dan memenjarakan orang yang menolak kebijakan ini, sehingga banyak ulama’ yang menderita bahkan meninggal karena menolak kebijakan  ini.

Sebagai ulama’ besar  yang fatwanya menjadi rujukan banyak orang ketika itu, Imam Ahmad mengingkari kebijakan ini dan menyatakan bahwa aqidah (keyakinan) yang menganggap al-Qur’an itu makhluk adalah aqidah kufur karena al-Qur’an adalah kalamullah. Namun ketika beliau dimintai pendapat untuk melakukan makar dan kudeta terhadap pemerintahan itu  maka beliau menasehati agar tetap sabar dan tidak melakukan pemberontakan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله menukil sebuah riwayat dari Hanbal bin Ishaq bin Hanbal رحمه الله tentang peristiwa ini. Hanbal bin Ishaq bin Hanbal رحمه الله menceritakan:

لما أظهر الواثق هذه المقالة، وضرب عليها وحبس، جاء نفر إلى أبي عبد الله من فقهاء أهل بغداد: فيهم بكر بن عبد الله، وإبراهيم بن علي المطبخي، وفضل بن عاصم، وغيرهم فأتوا أبا عبد الله وسألوا أن يدخلوا عليه فاستأذنت لهم فدخلوا عليه، فقالوا له: يا أبا عبد الله: إن الأمر قد فشا وتفاقم، وهذا الرجل يفعل ويفعل، وقد أظهر ما أظهر، ونحن نخافه على أكثر من هذا، وذكروا له أن ابن أبي دؤاد مضى على أن يأمر المعلمين بتعليم الصبيان في الكتاب مع القرآن، القرآن كذا وكذا.
فقال لهم أبو عبد الله: وماذا تريدون؟
قالوا: أتيناك نشاورك فيما نريد.
قال: فما تريدون؟
قالوا: لا نرضى بإمرته ولا بسلطانه.
فناظرهم أبو عبد الله ساعة، حتى قال لهم- وأنا حاضرهم-: "أرأيتم إن لم يبق لكم هذا الأمر، أليس قد صرتم من ذلك إلى المكروه؟ عليكم بالنكرة بقلوبكم، ولا تخلعوا يداً من طاعة، ولا تشقوا عصا المسلمين، ولاتسفكوا دماءكم ولا دماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم، ولا تعجلوا، واصبروا حتى يستريح بر، ويستراح من فاجر.
ودار بينهم في ذلك كلام كثير لم أحفظه، واحتج عليهم أبو عبد الله بهذا فقال بعضهم: إنا نخاف على أولادنا، إذا ظهر هذا لم يعرفوا غيره ويُمحى الإسلام ويدرس.
فقال أبو عبد الله: كلا، إن الله عز وجل ناصر دينه وإن هذا الأمر له رب ينصره، وإن الإسلام عزيز منيع.
فخرجوا من عند أبي عبد الله، ولم يجبهم إلى شيء مما عزموا عليه، أكثر من النهي عن ذلك والاحتجاج عليهم بالسمع والطاعة، حتى يفرج الله عن الأمة فلم يقبلوا منه.
فلما خرجوا، قال لي بعضهم: امض معنا إلى منزل فلان رجل سمو حتى نوعده لأمر نريد.
فذكرت ذلك لأبي، فقال لي أبي: لا تذهب واعتل عليهم، فإني لا آمن أن يغمسوك معهم فيكون لأبي عبد الله في ذلك ذكر، فاعتللت عليهم ولم أمض معهم.
فلما انصرفوا دخلت أنا وأبي على أبي عبد الله، فقال أبو عبد الله لأبي: يا أبا يوسف هؤلاء قوم قد أشرب قلوبهم ما يخرج منها فيما أحسب، فنسأل الله السلامة، ما لنا ولهذه الآفة، وما أحب لأحد أن يفعل هذا. فقلت له: يا أبا عبد الله، وهذا عندك صواب؟ قال: لا، هذا خلاف الآثار التي أمرنا فيها بالصبر، ثم قال أبو عبد الله: قال النبي صلى الله عليه وسلم: "إن ضربك فاصبر، وإن حرمك فاصبر، وإن وليت أمره فاصبر".
وقال عبد الله بن مسعود: كذا، وذكر أبو عبد الله كلاماً لم أحفظه.
قال حنبل: فمضى القوم، فكان من أمرهم أنهم لم يحمدوا، ولم ينالوا ما أرادوا، اختفوا من السلطان وهربوا وأُخد بعضهم فحبس، ومات في الحبس"

“Ketika Al-Watsiq mendeklarasikan ucapan ini (ucapan bahwa al-Qur’an adalah makhluk-Pent) dengan mencambuk dan memenjarakan (yang menentangnya-pent) maka datanglah sekelompok fuqoha’ penduduk Baghdad kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal-Pent), diantara mereka ada Bakar bin Abdillah, Ibrohim bin Ali al-Mathbakhi, Fadhl bin ‘Ashim dan lain-lain. Lalu mereka meminta izin masuk menemuinya. Aku pun mengizinkan mereka, lalu mereka masuk dan berkata,’Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya urusan ini telah menyebar dan menjadi gawat, orang ini telah berbuat dan berbuat, dia telah mendeklarasikan apa yang dia deklarasikan, dan kami takut dia berbuat lebih daripada ini. Lalu mereka menyebutkan bahwa Ibnu Abi Du’at telah menetapkan perintah kepada para guru untuk mengajarkan kepada anak-anak menulis tentang al-Qur’an bahwa al-Qur’an itu begini dan begitu (dalam riwayat al-Kholal disebutkan dengan redaksi sebagai berikut: ’ يَعْنُونَ إِظْهَارَهُ لِخَلْقِ الْقُرْآنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ’: yaitu deklarasinya bahwa al-Qur’an itu makhluk dan lain-lain).
Lalu Abu Abdillah berkata kepada mereka,’Apa yang kalian inginkan?’
Mereka menjawab,’Kami mendatangimu untuk minta pendapat tentang yang kami inginkan.’
‘Lalu apa yang kalian inginkan?’ tanya beliau lagi.
Mereka menjawab,’Kami tidak rela dengan kepemimpinan dan kekuasaannya.”
Lalu Abu Abdillah berdiskusi dengan mereka sesaat, sampai beliau berkata kepada mereka, sementara aku menyaksikannya,’Bagaimana pendapat kalian jika perkara ini tidak menyisakan bagi kalian, bukankah kalian telah menimbulkan sesuatu yang dibenci?, kalian harus mengingkarinya dengan hati kalian, janganlah melepaskan diri dari ketaatan, jangan memecah belah persatuan kaum muslimin, janganlah kalian menumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian, Lihatlah akibat dari urusan kalian, Janganlah tergesa-gesa, bersabarlah sampai orang yang baik istirahat atau diistirahatkan dari orang yang fajir.’
Lalu terjadilah dialoq diantara mereka yang aku tidak hafal, Maka Abu Abdillah berhujjah kepada mereka dengan perkataan tadi, maka sebagian  mereka berkata,’Sesungguhnya kami mengkawatirkan anak-anak kami bila perkara ini muncu, mereka tidak mengetahui syari’at yang lainnya dan Islam akan hilang dan musnah.’
Maka Abu Abdillah berkata,’Jangan begitu, Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla adalah penolang agama-Nya dan urusan ini mempunyai Rob yang akan menolongnya maka sesungguhnya Islam itu tinggi dan kokoh.’
Maka mereka keluar dari sisi Abu Abdillah sedangkan beliau tidak memenuhi kemauan  mereka sedikitpun, bahkan beliau lebih banyak melarang dari perbuatan itu dan berhujjah untuk mendengar dan taat sampai Allah membebaskan umat ini, namun mereka tidak menerimanya.  Tatkala mereka keluar, sebagian mereka berkata kepadaku,’Ikutlah dengan kami ke rumah Fulan, seseorang yang mereka sebut, Sampai kita memberikan harapan baik kepadanya tentang urusan yang kita inginkan. Lalu aku mengutarakannya kepada bapakku, maka beliau berkata,’Jangan pergi, carilah alasan!, aku merasa tidak enak jika mereka melibatkanmu, Sedangkan dalam hal ini Abu Abdillah lebih mempunyai reputasi.’ Maka aku pun beralasan dan tidak pergi bersama mereka.
Maka setelah mereka pergi, aku dan ayahku masuk menemui Abu Abdillah, lalu Abu Abdillah berkata kepada ayahku,’Wahai Abu Yusuf, saya kira mereka adalah kaum yang sudah bertekat bulat, maka kita memohon keselamatan kepada Allah, kita tidak berdaya menghadapi bencana ini, dan aku tidak suka siapapun melakukan ini,’ Lalu aku bertanya kepada beliau,’Wahai Abu Abdillah, apakah ini menurutmu benar?’ Beliau menjawab,’Tidak, ini meyelisihi atsar (dalil) yang memerintahkan kita bersabar.’ Kemudian Abu Abdillah berkata,’Nabi  ﷺbersabda:
"إن ضربك فاصبر، وإن حرمك فاصبر، وإن وليت أمره فاصبر".
‘Jika dia memukulmu, maka bersabarlah, jika dia merampasmu (hartamu-pent), maka bersabarlah, dan jika dia memberimu tugas, maka bersabarlah.’
Dan Abdullah bin Mas’ud juga berkata seperti itu.’ Lalu Abu Abdillah mengatakan perkataan yang aku tidak hafal.’
Hanbal juga berkata,’Maka orang-orang ini pun pergi, Sedangkan urusan mereka tidak memberikan kebaikan, sedangkan  mereka tidak memperoleh apa yang mereka inginkan, mereka lari dan bersembunyi dari pemerintah, sedangkan yang lain ditangkap dan dipenjara, lalu mati di dalam penjara.’”(Qoidah Mukhtashoroh hal. 18-21)


Faedah Dari Peristiwa
1.    Kaum Muslimin wajib taat kepada pememerintah muslim dan haram bagi mereka melakukan pemberontakan karena kedzoliman, kebengisan, kediktatoran dan penyelewengan pemimpin tersebut kecuali mereka telah  meninggalkan sholat lima waktu.

عن حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ, قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ»، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ»

Dari Hudzaifah bin al-Yaman, “Rosulullah ﷺ bersabda,’Akan ada setelahku para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan sunnahku, dan akan ada pula di tengah mereka orang-orang yang berhati syetan berbentuk manusia.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rosulullah, apa yang harus aku lakukan jika akau mendapati hal tersebut?’ Beliau menjawab,’Engkau harus mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, maka mendengarlah dan taatlah!’”(HR. Muslim: 1847)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّهُ سَتَكُونُ أُمَرَاءُ تَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ  ، فَمَنْ أَنْكَرَ، فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ كَرِهَ، فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ " قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: " لَا، مَا صَلَّوْا لَكُمُ الْخَمْسَ "

Dari Ummu Salamah, beliau berkata,”Rosulullah ﷺ bersabda,’Sesungguhnya akan ada pemimpin-pemimpin (Umaro’) yang kalian mengetahui mereka berbuat baik dan berbuat kemaksiatan. Maka barangsiapa yang mengingkarinya (kemaksiatannya-pent) maka dia telah berlepas diri, dan barangsiapa yang membencinya maka dia telah selamat, namun yang ridho dan mengikutinya (yang berdosa-pent).” Maka mereka (para sahabat-pent) Wahai Rosulullah apakah kami harus memeranginya?’ beliau menjawab,’Jangan, selama mereka masih sholat lima waktu.”(HR. Ahmad Dalam Musnad no. 26528, dishohihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth)
2.    Ketika terjadi fitnah besar maka sikap yang bijak adalah bertanya kepada para Ulama’ ahlus sunnah yang mu’tabar (diakui) keilmuannya, serta mengikuti fatwanya dan tidak terpengaruh oleh syubhat-syubhat yang mnyesatkan. Allah ﷻberfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada ahli dzikr (Ulama) jika kalian tidak mengetahui.”(QS. al-Anbiya’ :7)

3.    Melakukan makar kepada pemerintah muslim adalah merupakan tindakan memecah belah persatuan kaum muslimin. Sedangkan orang yang mengingkarinya adalah orang yang mengajak kepada persatuan untuk mengikuti sunnah Rosulullah ﷺ.
4.    Pemberontakan terhadap pemerintah muslim yang dzolim tidaklah memperbaiki agama tetapi malah merusaknya,karena akan menimbulkan kerugian yang lebih besar berupa pertumpahan darah  kaum muslimin yang tidak berhak dibunuh. Rosulullah ﷺ bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ. 

“Sungguh hilangnya dunia itu lebih ringan bagi Allah daripada membunuh seorang muslim .”(HR. Turmudzi: 1395, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykat no. 3462))

Oleh Abu Hasan as-Syihaby
Menjelang Ashar di kawasan pantura kabupaten Lamongan Jatim, Sabtu,15 Rojab 1437 H/ 23 April 2016 M


Daftar Referensi
  1. Al-Qur’an Al-Karim, Maktabah Syamelah.
  2. As-Sunnah, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad al-Kholal,Tahqiq Dr. Athiyah az-Zahroni, Darur Royah, Riyadh, cet. Pertama, 1410 H/1989 M, Maktabah Syamelah.
  3. Misykatul Masobih, Muhammad bin Abdillah at-Tabrizi, tahqiq Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-Maktab al-Islami, Beirut, cet. Ketiga, 1985 M, Maktabah Syamelah.
  4. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq Syu’aib al-Arnauth, Adil Mursyid,dll, Isyrof Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki, Muassasah ar-Risalah, cet. Pertama, 1421 H/2001 M, Maktabah Syamelah.
  5. Shohih Muslim, Muslim bin al-Hajjaj Abul Hasan al-Qusyairi, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Dar Ihya’ut Turots, al-Arobi, Beirut, Maktabah Syamelah.
  6. Sunan at-Turmudzi, Muhammad bin Isa Abu Isa at-Turmudzi, tahqiq Basyar Awwad Ma’ruf, Dar al-Ghorb al-Islami, Beirut, 1998 M, Maktabah Syamelah.
  7. Qoidah Mukhtashoroh fi Wujubi Tho’atillah Wa Rosulihi Wa Wulatil Umuur, Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Abdur Rozaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Jihazul Irsyad Wat Taujih, KSA, cet kedua, 1417 H, Maktabah syamelah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.