JAWABAN SYUBHAT BAHWA YUSUF AL-MAJISYUN MEMBOLEHKAN MUSIK. - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Kamis, 14 April 2016

JAWABAN SYUBHAT BAHWA YUSUF AL-MAJISYUN MEMBOLEHKAN MUSIK.

Di kampungku, kalau ada orang punya hajatan berupa walimah pernikahan atau yang lain maka kebanyakan mereka menyewa seperangkat sound system. Lalu mereka memutar musik yang suaranya memenuhi seluruh kampung. Kadangkala  sampai larut malam hingga mengganggu orang-orang yang sedang tidur, kalau tidak, kadang suaranya juga menggaggu orang beribadah.

Kalau ada yang mengingatkan haramnya musik dengan dalil-dalil alqur’an dan al-Hadist yang shohih, maka mereka tidak menghiraukannya karena kebanyakan kiyai dan para ustadz di  kampungku tidak mengingkarinya. Bahkan cenderung menganggapnya mubah dengan alasan syubhat-syubhat yang lemah.

Bahkan ketika mendengar ada orang yang mengingkarinya maka kebanyakan para ustadz ini menuduh orang yang mengingkari itu sebagai pembawa pemahaman baru dan kelompok baru yang berbeda dengan organisassi mereka sehingga orang awampun terperdaya dengan ucapan para tokoh yang mereka anggap ustadz ini.

Memang banyak syubhat yang mengingkari haramnya musik, namun syubhat-syubhat ini lemah laksana sarang laba-laba bila dibandingkan dengan dalil-dalil yang mengharamkannya. Sudah banyak tulisan-tulisan, buku-buku ataupun ceramah yang membantah syubhat- syubhat ini, yang semuanya dapat ditelusuri  dengan mudah melalui mesin pencari di internet.

Di antara syubhat-syubhat itu adalah ucapan yang mengatakan bahwa Yusuf al-Majisyun membolehkan musik. Berikut riwayat yang mereka klaim:

يُوسُف بن يَعْقُوب بن عبد الله بن أبي سَلمَة واسْمه دِينَار مولى لآل الْمُنْكَدر الْمدنِي أَبُو سَلمَة ولعَبْد الله بن أبي سَلمَة أَخ يُقَال لَهُ الْمَاجشون بن أبي سَلمَة واسْمه يَعْقُوب والماجشون بِالْفَارِسِيَّةِ المورد أخرج البُخَارِيّ فِي الْوكَالَة وَالْخمس وعدة أَصْحَاب بدر عَن الأويسي ومسدد وَعلي بن الْمَدِينِيّ عَنهُ عَن صَالح بن إِبْرَاهِيم قَالَ أَبُو بكر سَمِعت يحيى بن معِين يَقُول يُوسُف بن الْمَاجشون ثِقَة وَسُئِلَ عَنهُ مرّة أُخْرَى فَقَالَ صَالح وَسُئِلَ عَنهُ مرّة أُخْرَى فَقَالَ لَا بَأْس بِهِ كُنَّا نأتيه فيحدثنا فِي بَيت وَجوَار لَهُ فِي بَيت آخر يضربن بالمعزفة

“Yusuf bin Ya’qub al-Majisyun bin Abdullah bin Abi Salamah, namanya adalah Dinar Maula alul Munkadir al-Madani Abu Salamah. Abdullah bin Abi Salamah mempunyai saudara yang bernama al-Majisyun bin Abi Salamah, namanya Ya’qub. Kata al-Majisyun adalah bahasa Persi yang artinya sumber mata air. Imam Bukhori mengeluarkan dalam kitab al-Wikalah, al-Khumus dan ‘Iddatu Ashabi Badr (semuanya dalam shohih Bukhori, pent) dari al-Uwaisi, Musaddad dan Ali bin al-Madini darinya, dari Sholih bin Ibrohim. Abu Bakar berkata,’Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata,’Yusuf al-Majisyun tsiqoh (terpercaya).’ Dia ditanya lagi lalu menjawab,’Dia sholih.’ Dan beliau ditanya lagi maka dia menjawab,’Dia tidak mengapa, aku pernah mendatanginya lalu dia memberitahukan hadist kepada kami di sebuah rumah sedangkan budak-budak wanitanya sedang memukul mi’zafah (duff atau rebana tanpa suara gemerincing-pent) di rumah lainnya.’”(At-Ta’dil wa At-Tajrih : 3/1240)

Anggapan bahwa Yusuf al-Majisyun membolehkan musik berdasarkan riwayat di atas tidaklah di atas kebenaran ditinjau dari beberapa sisi, diantaranya:

1.    Riwayat di atas lemah karena terputus sanad antara Abu Walid Sulaiman bin kholaf al-Baji, penyusun kitab” At-Ta’dil wa At-Tajrih li Man Kharaja lahu Al-Bukhari” dengan Abu Bakar. Penyusun kitab ini meriwayatkannya dari Abu bakar secara muallaq. Abu Walid Sulaiman bin kholaf al-Baji wafat tahun 474 H (Tarikh al-Islam : 10/365, no. 118). Sedangkan Abu Bakar Yang meriwayatkan dari Yahya bin Ma’in sejauh pengetahuanku ada dua orang, yaitu:
  • Abu Bakar Ahmad bin Abi Khoitsamah wafat tahun 279 H umur 94 tahun (Siyar A’lamin Nubala’:11/493)
  • Ahmad bin Ali Bin Said bin Ibrohim al-Qurosyi al-Umawi al-Marwazi, Abu Bakar al-Qodhi, wafat tahun 296 H (Ibid: 13/ 528)
Dengan membandingkan tahun wafat Abu Walid al-Baji dan wafat dua Abu Bakar di atas maka tidak ada kemungkinan mereka bertemu karena terpaut jauh rentang waktunya. Anggaplah riwayat di atas shohih maka jawabannya ada pada point berikutnya.

2.    Penetapan hukum itu berdasarkan dalil, bukan berdasarkan perkataan atau perbuatan seseorang. Telah jelas bahwa Rosulullah ﷺ  telah menyatakan keharamannya musik, beliau berkata:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ، يَسْتَحِلُّونَ الحِرَ وَالحَرِيرَ، وَالخَمْرَ وَالمَعَازِفَ

“Sungguh akan ada dari umatku kaum yang menghalalkan zina, sutra, khomr dan musik.”(HR. Bukhori : 5590)


3.    Salah satu Makna al-mi’zafah (المعزفة) adalah bermakna duff (rebana yang tidak ada suara gemerincingnya). Abu Musa al-Madini رحمه الله berkata:

العَزْفُ: الَّلعِب بالمَعازِف؛ وهي الدُّفُوفُ وغَيرُها مِمَّا يُضْرَب، وهي جمع المِعْزَفَة

“Al-Azfu adalah bermain al-ma’azif  yaitu ad-dufuf (rebana) dan benda (musik) yang dipukul lainnya, dan dia jama’ dari al-mi’zafah.”(al-Majmu’ al-Mughits: 2/440)

Ibnul Atsir رحمه الله berkata:

اللَّعِب بالمَعَازِف، وَهِيَ الدُّفوف وغَيرها مِمَّا يُضْرَب.

“bermain al-ma’azif  yaitu ad-dufuf (rebana) dan alat yang dipukul lainnya.”(An-nihayah: 3/230)

Murtadho az-Zabidi رحمه الله berkata:

العَزْفُ: الطَّرْقُ والضَّرْبُ بالدُّفُوفِ

“Al-‘Azfu adalah menabuh atau memukul dufuf (rebana).”(Taajul ‘Aruus :24/156)

Ibnu Mandzur رحمه الله berkata:
وعَزْفُ الدُّفِّ: صوتُه.
“Dan makna  ‘azfud duf adalah suara rebana.”(Lisaanul Arob: 9/244)

Oleh sebab itu, riwayat ini mengabarkan bahwa permainan musik yang dimainkan oleh anak-anak di rumah Yusuf al-Majisyun adalah permaian duff atau rebana yang tidak ada suara gemerincingnya. Permainan seperti ini diperbolehkan pada waktu-waktu tertentu, seperti pada walimah pernikahan dan hari raya umat Islam.

4.    Bentuk kata (Shighoh) ‘كان’ dalam bahasa Arab kadangkala digunakan untuk mengungkapkan kejadian yang terjadi hanya satu kali. Contoh:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا»

Dari Abu Qotadah,”Bahwasanya Rosulullah ﷺ pernah sholat dalam keadaan menggendong Umamah binti Zainab binti Rosulullah ﷺ , lalu ketika sujud beliau meletakkannya, dan apabila berdiri beliau menggendongnya lagi.”(HR. Imam Ahmad dalam Musnad no. 22524, Abu Dawud dalam As-sunan no. 917)

Imam as-Shon’ani رحمه الله berkata dalam mengomentari hadist di atas:

فِي قَوْلِهِ: كَانَ يُصَلِّي، مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذِهِ الْعِبَارَةَ لَا تَدُلُّ عَلَى التَّكْرَارِ مُطْلَقًا؛ لِأَنَّ هَذَا الْحَمْلَ لِأُمَامَةَ وَقَعَ مِنْهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مَرَّةً وَاحِدَةً لَا غَيْرُ.

“Tentang kalimat ‘كَانَ يُصَلِّي’, ini menunjukkan bahwa ungkapan ini tidak menunjukkan terjadi beberapa kali secara mutlak, karena Rosulullah ﷺ menggondong Umamah hanya terjadi satu kali.”(Subulus Salam: 1/211)

Oleh sebab itu bentuk kata (Shighoh) ‘كُنَّا نأتيه’ dalam riwayat di atas adalah bermakna kami pernah mendatanginya. Dan ini hanya kejadian satu kali dan tidak terus menerus, sehingga permainan rebana oleh anak-anak ini tidak bisa dikatakan terus-menerus dilakukan di sekitar Yusuf al-Majisyun.

5.    Karena kejadian ini hanya satu kali maka peristiwa ini mengandung beberapa kemungkinan. bisa jadi terjadi pada walimah pernikahan atau pada hari raya. Dan riwayat ini tidak mnyebutkan kejadiannya, sehingga disebut waqi’atu ‘ain (peristiwa tertentu) , waqiatu hal, hikayatu hal atau hikayatul fi’l atau kejadian yang terjadi pada waktu tertentu. Sedangkan para Ulama’ telah sepakat bahwa tidak syah menggunakan peristiwa tertentu (Waqi’atu Ain) yang masih mengandung banyak kemungkinan sebagai dalil keumuman peristiwa tersebut. Karena peristiwa seperti ini masih global dan samar, belum jelas keadaannya. Sehingga hukumnya adalah wajib tawaqquf dan tidak menggunakan sebagai dalil sampai jelas keadaanya, atau ada dalil lain yang menunjukkan kejelasan peristiwanya. Berikut Ucapan para ulama’ mengenai hal ini:

Imam Syafi’i رحمه الله berkata:

وَقَائِعُ الْأَحْوَالِ إذَا تَطَرَّقَ إلَيْهَا الِاحْتِمَالُ كَسَاهَا ثَوْبُ الْإِجْمَالِ وَسَقَطَ بِهَا الِاسْتِدْلَال

“Waqoi’ul Ahwal (peristiwa tertentu) bila terjadi beberapa kemungkinan maka ia mengandung perkara yang global (samar ) dan tidak syah menjadikannya sebagai dalil.” (Nihayatul Muhtaj: 7/255)

Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah رحمه الله berkata:

فَهُوَ وَاقِعَةُ عَيْنٍ، تَحْتَمِلُ، وُجُوهًا…وَإِذَا احْتَمَلَتْ الْقِصَّةُ هَذَا وَهَذَا وَهَذَا: لَمْ يَجْزِمْ بِوُقُوعِ أَحَدِ الِاحْتِمَالَاتِ إلَّا بِدَلِيلٍ

“Maka dia adalah Waqiatu ‘Ain yang mengandung beberapa kemungkinan….dan apabila ceritanya mengandung kemungkinan ini atau itu maka tidak syah menetapkannya kepada salah satu  dari kemungkinan-kemungkinan itu kecuali dengan dalil.”(at-Thuruqul Hukmiyyah hal. 196)

Ibnu Hajar al-Asqolani رحمه الله berkata:

وَبِالْجُمْلَةِ فَهِيَ وَاقِعَةُ عَيْنٍ يَتَطَرَّقُ إِلَيْهَا الِاحْتِمَالُ وَلَا عُمُوم لَهَا فَلَا حجَّة فِيهَا

“Secara global, maka ia adalah waqi’atu ‘ain yang mengandung beberapa kemungkinan dan sifatnya tidak umum maka tidak bisa dijadikan hujjah (dalil).”(Fathul Bari : 10/550)

6.    Kholifah Umar bin Abdul  Aziz رحمه الله telah menyatakan ijma’ tentang bid’ahnya musik. Imam an-Nasa’i رحمه الله  meriwayatkan:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ: حَدَّثَنَا مَحْبُوبٌ يَعْنِي ابْنَ مُوسَى قَالَ: أَنْبَأَنَا أَبُو إِسْحَاقَ وَهُوَ الْفَزَارِيُّ، عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ: كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْوَلِيدِ كِتَابًا فِيهِ: «….، وَإِظْهَارُكَ الْمَعَازِفَ، وَالْمِزْمَارَ بِدْعَةٌ فِي الْإِسْلَامِ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَبْعَثَ إِلَيْكَ مَنْ يَجُزُّ جُمَّتَكَ جُمَّةَ السُّوءِ»

“Telah mengabarkan kepadaku ‘Amr bin Yahya, ia berkata,’telah menceritakan kepadaku Mahbub yaitu putra Musa, ia berkata,’telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq al-Fazari, dari al-Auza’i, ia berkata,’Umar bin Abdul Aziz telah menulis surat kepada Umar bin al-Walid,’ tertulis,’…dan perbuatanmu menampilkan musik dan seruling adalah bid’ah dalam Islam, sungguh aku berkeinginan mengutus orang yang akan mencukur rambutmu  sebagai  balasan orang yang berbuat kejelekan.”(Sunan An-Nasai no. 4135, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani  dalam  Tahrim Alat at-Thorby hal. 120)

Kholifah Umar bin Abdul Aziz (W. 101 H) menyatakan bid’ahnya permainan musik dalam Islam, ini menunjukkan bahwa pada zaman beliau dan zaman sebelum beliau yaitu zaman para sahabat dan zaman Rosulullah ﷺ tidak pernah nampak permainan musik. Karena istilah bid’ah adalah perkara yang dibuat-buat setelah Nabi dan dianggap sebagai agama. Jika ada musik pasti diingkari karena itu termasuk kemungkaran sebagaimana yang beliau lakukan terhadap orang yang menampakkan musik, beliau akan mencukur rambut kepalanya sebagai bagi balasan orang yang melakukan keburukan..

Apa yang disampaikan oleh sang kholifah ini disaksikan oleh imam al-Auza’i, ulama’  negeri Syam, ahli  hadist dan ahli  fiqihnya. Disaksikan pula oleh Imam Abu Ishaq al-Fazari, seorang Imam ahlus Sunnah dan ahli hadist. Keduanya tidak mengingkari ucapan Umar bin Abdul Aziz bahwa menampakkan musik adalah bid’ah, ini menunjukkan kesepakatan atau ijma’ para sahabat dan Tabi’in bahwa musik adalah kemungkaran yang harus diingkari.

Banyak para Ulama’ yang menyatakan ijma’ keharaman musik, salah satunya adalah  imam Abu Bakar al-Ajuri (w. 280 H), beliau رحمه الله berkata:

فَإِنْ سَائِلًا سَأَلَ عَنْ هَذِهِ الْمَلَاهِي الَّتِي يَلْهُو بِهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَيَلْعَبُوا بِهَا , مِثْلُ: النَّرْدِ وَالشِّطْرَنَجِ وَالزُّمَّارَةِ وَالصُّفَّارَةِ وَالصَّنْجِ وَالطَّبْلِ وَالْعُودِ وَالطُّنْبُورِ , وَأَشْبَاهِ ذَلِكَ مِنَ الْقِمَارِ مِمَّا قَدِ افْتَتَنَ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ , فَقَالَ لَهُ السَّائِلُ: هَلْ فِي شَيْءٍ مِمَّا ذَكَرْتُ رُخْصَةً لِمَنِ اسْتَمَعَ إِلَيْهِ وَلِمَنْ لَعِبَ بِهِ؟ وَهَلْ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَمِعَ الْغِنَى مِنْ مُغَنٍ أَوْ من جَارِيَةٍ أَوْ مِنِ امْرَأَةٍ حُرَّةٍ؟ . أَحَبَّ السَّائِلُ أَنْ يَعْلَمَ الْجَوَابَ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ. الْجَوَابُ وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ: جَمِيعُ مَا سَأَلَ عَنْهُ السَّائِلُ وَالْعَمَلُ بَاطِلٌ وَحَرَامٌ الْعَمَلُ , وَحَرَامٌ اسْتِمَاعُهُ بِدَلِيلٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ , وَسُنَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَقَوْلِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ , وَقَوْلِ الْكَثِيرِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ

“Maka jika seseorang menanyakan tentang alat-alat hiburan yang membuat kebanyakan manusia lalai dan bersenda gurau, seperti permainan dadu, catur, seruling, terompet, canang, gendang, kecapi, gitar dan jenis-jenis perjudian yang membuat banyak orang terfitnah, dia bertanya,’Apakah barang-barang yang telah saya sebutkan ada rukhshoh (keringanan) bagi orang yang mendengarkannya dan memainkannya? dan bolehkah seseorang mendengarkan nyanyian dari penyanyi, budak wanita atau dari wanita yang merdeka?’ Penanya menginginkan jawabannya semuanya. Wabillahi at-taufiq,  jawabnya,’Semua yang ditanyakan penanya adalah haram dan batil mempraktekkannya, haram juga mendengarkannya dengan dalil dari kitab Allah عَزَّ وَجَلَّ, dan sunnah-sunah Rosulullah ﷺ, ucapan para sahabat dan banyak perkataan dari para ulama’” (Tahriim an-Nardi hal. 94-95)

Imam Ibnu Rojab رحمه الله mengabarkan tentang pendapat al-Ajuri, beliau berkata:

أن يقع على وجه اللعب واللهو فأكثر العلماء على تحريم ذلك أعني سماع الغناء وسماع آلآت الملاهي كلها وكل منها محرم بانفراده وقد حكى أبو بكر الآجري وغيره إجماع العلماء على ذلك

“Jika dilakukan dengan cara bernain-main dan bersenda  gurau maka kebanyakan ulama’ mengharamkannya yaitu mendengarkan nyanyian dan alat-alat musik, semuanya haram. Abu Bakar al-Ajuri telah menyatakan ijma’ ulama’ tentang hal itu.”(Nuzhatul Asma’ hal. 25)

Kemudian Yusuf Al-Majisyun (W. 185 H) seorang  generasi tabi’in pertengahan, yang ketika Kholifah Umar bin Abdul Aziz berkuasa beliau masih kecil, mungkin umur 4 atau 3 tahun, diklaim oleh orang-orang yang membolehkan musik bahwa beliau membolehkan musik dengan riwayat wahm (meragukan) di atas, sedangkan tidak ada riwayat valid menurut pengetahuan saya yang menyatakan dengan tegas bahwa Yusuf al-Majisyun atau Yahya bin Ma’in membolehkan musik secara mutlak, maka klaim ini adalah klaim yang bertentangan dengan ijma’ yang dinyatakan oleh Kholifah Umar bin Abdul Aziz  dan disetujui oleh al-Auza’i dan al-Fajzari tentang haramnya musik, sedangkan para ulama’ telah menyatakan tentang terlarangnya menyelisihi ijma’ yang telah tetap menurut pendapat yang rojih.


As-Sarkhosi رحمه الله berkata:

الْإِجْمَاع مُوجب للْعلم قطعا بِمَنْزِلَة النَّص فَكَمَا لَا يجوز ترك الْعَمَل بِالنَّصِّ بِاعْتِبَار رَأْي يعْتَرض لَهُ لَا يجوز مُخَالفَة الْإِجْمَاع بِرَأْي يعْتَرض لَهُ بَعْدَمَا انْعَقَد الْإِجْمَاع بدليله

“Ijma’ wajib diketahui secara qot’i seperti kedudukan nash (dalil). Sebagaimana nash (dalil), yang tidak boleh meninggalkannya karena adanya pendapat yang menentangnya, maka tidak boleh juga menyelisihi ijma’ dengan alasan  pendapat yang menentangnya setelah terjadinya ijma’ beserta dalilnya.”(Ushul as-Sarkhosi:1/308)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ، مَعْنَى الْإِجْمَاعِ: أَنْ تَجْتَمِعَ عُلَمَاءُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى حُكْمٍ مِنْ الْأَحْكَامِ. وَإِذَا ثَبَتَ إجْمَاعُ الْأُمَّةِ عَلَى حُكْمٍ مِنْ الْأَحْكَامِ لَمْ يَكُنْ لِأَحَدِ أَنْ يَخْرُجَ عَنْ إجْمَاعِهِمْ؛ فَإِنَّ الْأُمَّةَ لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ

“Alhamdulillah, makna ijma’ adalah para ulama’ sepakat dalam suatu hukum, jika ijma’ terhadap hukum sesuatu telah tetap, maka seseorang tidak boleh keluar dari ijma’ mereka, karena umat ini tidak akan berkumpul dalam kesesatan.” (Majmu’ al-Fatawa : 20/10)

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin رحمه الله berkata:

فالإجماع لا يرفع الخلاف السابق، وإنما يمنع من حدوث خلاف،

“Maka Ijma’ tidaklah menghapuskan khilaf (perbedaan pendapat) sebelumnya, namun ia melarang pendapat yang menyelisihinya.” (al-Ushul Min Ilmil Ushul hal.66)


Tulisan ini mengambil faedah banyak dari kitab Ar-rod ‘alal Qordhowi wal Judai’ oleh Syaikh Abdullah Romadhon bin Musa.

Oleh Abu Hasan as-Syihaby
Mendung tipis b’da Dzuhur di kawasan pantura Lamongan, Jawa Timur, Kamis, 7 Rojab 1437 H/14 April 2016 M.

DAFTAR REFERENSI

  1. Al-Majmu’ al-Mughits fi gorib al-Qur’an wa al-Hadits, Muhammad bin Umar Abu Musa al-Madini, Abdul Karim al-Azbawi, Jami’ah Ummul Quro, Makkah al-Mukarromah, dan Dar al-Madani, Jeddah, KSA, cet. Pertama, 1408 H/1988 M, Maktabah Syamelah.
  2. al-Ushul Min Ilmil Ushul , Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Dar Ibnil Jauzi, cet. Keempat, 1430 H/2009 M, Maktabah Syamelah.
  3. An-Nihayah fi ghorib al Hadist wa al-Atsar, Mujiddudin Abi Sya’adaat al-Mubarok bin Muhammad Ibnul Atsir as-Syaibani, tahqiq Thohir Ahmad az-Zawi & Mahmud Muhammad ath-Thonahi, al-Maktabah al-Ilmiyyah, Beirut, 1399 H/1979 M. Maktabah Syamelah.
  4. As-Sunan as-Sugro, Abu Abdirrohman Ahmad bin Syu’aib an-Nasa’I, tahqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah, Maktab al-Mathbu’at al-Islamiyyah, Aleppo, cet. Kedua, 1406 H/1986 M, Maktabah Syamelah.
  5. At-Ta’dil wa At-Tajrih li Man Kharaja lahu Al-Bukhari Fi al-Jaami’ as-Shohih, Abu Walid Sulaiman bin Kholaf al-Baji al-Andalusi, Tahqiq Dr. Abu Lubabah Husain, Dar al-Liwa’, Riyadh, cet. Pertama, 1406 H/1986 M, Maktabah Syamelah.
  6. At-Thuruqul Hukmiyyah, Muhammad bin Abi Bakar Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah, Maktabah Darul Bayan, Maktabah Syamelah.
  7. Fathul Bari Syarh Shohih Bukhori,  Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqolani, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H.
  8. Lisaanul Arob, Muhammad bin Mukarrom abul Fadhl Jamuluddin Ibnu Mandzur, Dar Shodir, Beirut, cet. Ketiga , 1414 H, Maktabah Syamelah.
  9. Majmu’  al-Fatawa, Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah, Tahqiq Abdurrohman bin Muhammad bin Qosim, Majma’ Malik Fahd, Madinah Nabawiyyah, KSA, 1416 H/ 1995 M, Maktabah Syamelah.
  10. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq Syu’aib al-Arnauth, Adil Mursyid,dll, Isyrof Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki, Muassasah ar-Risalah, cet. Pertama, 1421 H/2001 M, Maktabah Syamelah.
  11. Nihayatul Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, Muhammad bin Ahmad Syamsuddin ar-Romli, Dar al-Fikr, Beirut, cet. Terakhir, 1404 H/1984 M, Maktabah  Syamelah.
  12. Nuzhatul Asma’ Fi Mas-alati as-Sima’, Abdurrohman bin Rojab al-Hanbali, Dar at-Toyyibah, Riyadh, cet. Pertama, 1407 H/1986, Maktabah al-Imam Ibnu Rojab al-Hanbali, edisi ketiga, www.islamspirit.com
  13. Shohih al-Bukhori, Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhori, tahqiq Muhammad bin Zuhair bin Nasir an-Nasir, Dar Thouqi an-Najah, cet. Pertama, 1422 H, Maktabah Syamelah.
  14. Siyar  A’lamin Nubala’, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi, Tahqiq Kumpulan pentahqiq pembina syaikh Syu’aib al-Arnauth, Muassasah ar-Risalah, cet. Ketiga, 1405 H/1985 M,Maktabah Syamelah.
  15. Subulus Salam, Muhammad bin Ismail as-Shon’ani, Dar al-Hadist, Maktabah Syamelah.
  16. Sunan Abi Dawud, Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani, tahqiq Syu’aib al-Arnauth dan Muhammad Kamil Qurroh Balali, Dar ar-Risalah al-‘Alamiyyah, cet pertama, 1430 H/2009 M, Maktabah Syamelah.
  17. Taajul ‘Aruus, Muhammad bin Muhammad az-Zabidi, Tahqiq kumpulah pentahqiq, Dar al-Hidayah, Maktabah Syamelah.
  18. Tahrim Alat at-Thorby, Abu Abdirrohman Muhammad Nashiruddin al-Albani, Muassasah ar-Royyan, Beirut/Dar as-Shiddiq, Jubail, KSA, cet. Ketiga, 1426 H/2005 M, Maktabah Syamelah.
  19. Tarikh al-Islam wa wafiyati al-Masyahir wa al-A’lam, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi, Tahqiq Dr. Basyar Awwad Ma’ruf, Dar-al-Gorb al-Islami, cet. Pertama, 2003 M, Maktabah Syamelah.
  20. Ushul as-Sarkhosi, Muhammad bin Ahmad as-Sarkhosi, Dar al-Ma’rifah, Beirut, Maktabah Syamelah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.