Do’a Rosulullah ﷺ Ketika Perang Badar Bukan Ekspresi Keputus-asaan - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Minggu, 25 Februari 2018

Do’a Rosulullah ﷺ Ketika Perang Badar Bukan Ekspresi Keputus-asaan

Dalam perang Badar, Kaum muslimin yang berjumlah 319 prajurit berhadapan dengan orang-orang musyrik Quraisy yang berjumlah 1000 prajurit. Dalam menghadapi kekuatan yang berjumlah tiga kali lipat kekuatannya inilah kaum muslimin menghadapi situasi yang gawat dan mendebarkan, apalagi ini adalah peperangan terbesar pertama yang mereka hadapi. Dalam keadaan seperti ini, Rosulullah ﷺ berdo’a menuntut janji kemenangan yang diberikan oleh Allah ﷻ. Diantara redaksi do’a beliau adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ فِي قُبَّةٍ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَوَعْدَكَ، اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ بَعْدَ اليَوْمِ» فَأَخَذَ أَبُو بَكْرٍ بِيَدِهِ، فَقَالَ: حَسْبُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَدْ أَلْحَحْتَ عَلَى رَبِّكَ وَهُوَ فِي الدِّرْعِ، فَخَرَجَ وَهُوَ يَقُولُ: {سَيُهْزَمُ الجَمْعُ، وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ، وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ} [القمر: 46]

Dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,”Nabi ﷺ berdo’a di dalam tendanya,’Ya Allah, sesungguhnya aku menuntut janji-janjimu, Ya Allah jika Engkau menghendaki (hancurnya kaum muslimin-pent) maka Engkau tidak disembah setelah hari ini.’ Lalu Abu Bakar memegang tangan beliau dan berkata,’Cukup wahai Rosulullah, engkau telah bersungguh sungguh berdo’a kepada Robmu.’ Dan beliaupun memakai baju besi lalu keluar dan membaca ayat: ’Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. Sebenarnya hari kiamat Itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.’” (QS. Al-Qomar : 45-46)”(HR. Bukhori no. 2915)

عن عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ، وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا، فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ، ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ، فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: «اللهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ»، فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ، مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ، فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ، فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ، وَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ، كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ، فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ، فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ} [الأنفال: 9] فَأَمَدَّهُ اللهُ بِالْمَلَائِكَةِ،

Dari Abdullah bin Abbas, beliau berkata,”Telah menceritakan kepadaku Umar bin Khottob, beliau berkata,’Tatkala perang Badar, Rosulullah ﷺ melihat ke arah kaum musyrikin yang berjumlah 1000 prajurit, sedangkan sahabatnya berjumlah 319 orang, maka Nabiyullah  ﷺ menghadap kiblat, kemudian beliau menengadahkan tangannya dan bermunajat kepada Robnya,’Ya Allah, penuhilah janjimu kepadaku! Ya Allah, berikanlah apa yang Engkau janjikan kepadaku! Ya Allah  jika Engkau menghancurkan kelompok kaum muslimin ini maka Engkau tidak disembah di bumi ini.’ Dan beliau tetap bermunajat kepada Robnya dengan menengadahkan tangan menghadap kiblat sampai selendangnya jatuh dari pundaknya, Lalu datanglah Abu Bakar mengambil selendangnya dan meletakkannya kembali di atas pundaknya. Kemudian dia memeluknyanya dari belakang sambil berkata,’Wahai Nabi Allah, cukuplah engkau memohon kepada Robmu, karena Dia akan memenuhi janji-Nya kepadamu. Maka Allah عَزَّ وَجَلَّ menurunkan ayat,’(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: ‘Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut.’ (QS al-Anfal (8) : 9) Maka Allah pun menolongnya dengan malaikat.”.(HR Muslim no.1763)

Do’a do’a yang dipanjatkan oleh Rosulullah ﷺ dalam perang Badar tersebut tidaklah menunjukkan bahwa beliau putus asa. Sungguh sangat jauh Rosulullah ﷺ dari sifat putus asa. Akhlak beliau adalah al-Qur’an, sedangkan Allah dalam al-Qur’an berfirman ketika mengabarkan ucapan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam kepada Anak-anaknya:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".(QS. Yusuf (12) : 87)

Begitu pula Rosulullah ﷺ bersabda dalah hadis berikut:

عن ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَجُلا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! مَا الْكَبَائِرُ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالإِياسُ مِنْ رُوحِ اللَّهِ، وَالْقُنُوطُ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ» .

Dari Ibnu Abbas, “Bahwa seseorang bertanya,’Wahai Rosulullah apa  saja dosa besar itu?’ Maka beliau menjawab,’ Yaitu menyekutukan Allah, Putus asa dari rohmat Allah dan putus harapan dari kasih sayang Allah.”(HR al-Bazzar dalam Musnadnya hal. 18 zawaiduhu dan dalam Kasyful Astar ‘An Zawaidil Bazzar oleh al-Haitsami no. 106, dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shohihah no. 2051)

Sesungguhnya Rosulullah ﷺ memanjatkan do’a do’a tersebut adalah karena beliau ingin menenangkan dan menguatkan hati sahabatnya. Beliau juga mengatakan dalam do’anya bahwa Allah ﷻ tidaklah disembah di bumi ini jika kaum muslimin kalah dan hancur dalam peperangan itu, karena beliau tahu bahwa dirinya adalah penutup nabi sehingga tidak ada yang diutus untuk mengajak kepada keimanan lagi bila beliau wafat pada hari itu. Berikut adalah ucapan para ulama tentang do’a doa Rosulullah ﷺ ini:

Al-Khottobi rohimahullah berkata:

قد يشكل معنى الحديث على كثير من الناس، وذلك إذا رأوا نبي الله، صلى الله عليه وسلم، وهو يناشد ربة في استنجاز الوعد، ويلح في الدعاء، وأبو بكر يسكن منه، ويقول له: حسبك، فقد ألححت على ربك، وهذا يوهم أن حال أبي بكر في الثقة بربه والطمأنينة إلى وعده أرفع من حاله، وهذا ما لا يجوز أن يكون بحال بتة، والمعنى في مناشدته صلى الله عليه  وسلم، وإلحاحه عليه في الدعاء، والمسألة، الشفقة على قلوب أصحابه، وتقوية منتهم، إذ كان أول مشهد شهدوه في لقاء العدو، وكان أصحابه في قلة من العدد، مكثورين بأضعاف من أعدائهم، فابتهل رسول الله، صلى الله عليه وسلم، في الدعاء، وألح في المسألة ليسكن بذلك ما في نفوسهم، إذ كانوا يعلمون أن (وسيلته)، مقبولة، ودعوته مستجابة

“Makna hadist ini menjadi samar bagi kebanyakan orang, hal ini disebabkan jika Nabiyullah ﷺ memohon kepada Robnya  agar memenuhi janjinya, dan bersungguh –sungguh meminta, sedangkan Abu Bakar menenangkannya sambil berkata,’Cukuplah engkau telah bersungguh-sungguh memohon kepada Robmu.’Dan ini membuat ragu bahwa keadaan Abu Bakar dalam mempercayai Robnya dan keyakinan terhadap janji-Nya lebih tinggi daripada keadaan Nabi. Keadaan seperti ini tidak boleh sama sekali. Sedangkan makna dari permohonan Nabi serta kesungguhannya dalam berdo’a dan memohon adalah bentuk simpati beliau kepada para sahabatnya serta untuk menguatkan tekat mereka karena itu adalah peperang terbesar yang mereka hadapi sedangkan keadaan sahabatnya berjumlah sedikit, kalah bila dibandingkan jumlah musuh yang berlipat. Maka Rosulullah ﷺ memohon dan bersungguh sungguh dalam berdo’a supaya jiwa mereka tenteram, karena mereka tahu  bahwa wasilah do’a nabi itu di terima dan permohonannya dikabulkan.”(A’lamul Hadist : 2/1403-1404)

Imam Nawawi rohimahullah berkata:

قَالَ الْعُلَمَاءُ هَذِهِ الْمُنَاشَدَةُ إِنَّمَا فَعَلَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَرَاهُ أَصْحَابُهُ بِتِلْكَ الْحَالِ فَتَقْوَى قُلُوبُهُمْ بِدُعَائِهِ وَتَضَرُّعِهِ

“Para Ulama’ berkata bahwa permohonan ini hanya dilakukan oleh Rosulullah ﷺ agar para sahabatnya melihatnya dalam keadaan seperti itu, sehingga hati mereka menjadi kokoh dengan do’a dan permohonannya yang sungguh-sungguh.”(Al-Minhaj : 12/85)

Sedangkan Al-Qostholani rohimahullah dalam menafsirkan do’a Nabi ﷺ,’ لم تعبد بعد اليوم’ ‘Engkau tidak disembah lagi setelah hari ini’ beliau berkata:

وإنما قال ذلك لأنه علم أنه خاتم النبيين فلو هلك ومن معه حينئذٍ لم يبعث أحد ممن يدعو إلى الإيمان
“Sesungguhnya beliau mengucapkan demikian karena beliau tahu bahwa dirinya adalah penutup para nabi maka sekiranya beliau dan orang-orang yang bersamanya waktu itu hancur maka  tidak ada lagi orang yang diutus  untuk mengajak kepada keimanan.”(Irsyadus Sari :5/101) 

Ucapan yang mengatakan bahwa Rosulullah ﷺ putus asa pada hakekatnya adalah bentuk merendahkan martabat Rosulullah ﷺ, karena hakekatnya beliau tidak putus asa, malah beliau optimis dengan kemenangan yang dijanjikan oleh Allah. Ucapan merendahkan ini juga mirip dengan ucapan nenek moyang Khowarij, Dzul Khuwaisiroh yang merendahkan Nabi:

اعْدِلْ يَا مُحَمَّدُ فَإِنَّكَ لَمْ تَعْدِلْ

“Berbuatlah adil wahai Muhammad, sesungguhnya engkau tidak berlaku adil!”

Maka ucapan yang meremehkan kedudukan Rosulullah ﷺ ini dijawab oleh Beliau:

 «وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ بَعْدِي إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟

“Celaka kamu, siapa lagi yang berlaku adil jika aku tidak adil? “(HR Ibju Majah no. 172, dinilai shohih oleh syaikh al-Albani)

Begitu pula ucapan ini juga mirip ucapan kaum pergerakan dan kaum sufi yang merendahkan martabat Rosulullah ﷺ dan para Nabi, diantaranya:

1.    Ucapan salah seorang dai pergerakan,“Rosulullah tidak bisa mewujudkan rohmatal lil ‘alamin selama hidupnya.”
2.    Ucapan Abu Yazid al-Busthomi yang merendahkan para Nabi:
خضنا بحرا وقف الانبياء بساحله 

“Kami (Para wali sufi-Pent) menyelami lautan yang para Nabi hanya berdiri di pantainya.” (Al-Ibriz lid Dibagh hal. 276)
3.     Ucapan Muhammad Ilya* , pendiri Jama’ah Tab**gh yang merendahkan kemampuan para Nabi  di dalam surat yang dia kirimkan kepada salah satu  anggota jam’ahnya:

إذا لم يرد الله أن يقوم أحد بعمل فلا يمكن حتّى الأنبياء أن يبذلوا جهودهم فيقومون بشيء بسيط ، و إذا أراد الله شيئا يقم أمثالكم الضعفاء بالعمل الذي لم يستطع الأنبياء

“Jika Allah tidak menghendaki seorangpun untuk melakukan suatu amalan, maka tidak mungkin melakukannya sampaipun para nabi yang mengerahkan kemampuannya untuk melakukan sesuatu yang remeh. Dan jika Allah menghendaki sesuatu maka orang yang lemah seperti kalian akan mampu melakukan amalan yang para nabi tidak mampu melakukannya.” (https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=128236)

    Oleh sebab itu maka selayaknya seorang muslim tidak mengucapkan kalimat yang merendahkan martabat Nabi dan menjauhi ucapan-ucapan seperti itu.  Bahkan mereka berkewajiban mengingatkan bahwa ucapan seperti itu tidak patut dilakukan oleh orang muslim yang tauhidnya benar.

Oleh Abu Failaqullah as-Syihaby
Petang  di sudut utara kabupaten Lamongan Jatim, Ahad, 10 Jumadis Tsani 1439 H/ 25 Februari 2018 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.