Ada Syetan yang Berfaham “Ahlus Sunnah” - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Jumat, 02 Maret 2018

Ada Syetan yang Berfaham “Ahlus Sunnah”

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa syetan adalah makhluk pembangkang dan bermaksiat kepada Allah. Mereka berusaha menggoda dan mengajak manusia untuk membangkang dan bermaksiat kepada Allah. Mereka adalah makhluk yang sudah dinyatakan sebagai penghuni neraka. Meskipun demikian, ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa ada syetan yang berfaham “ahlus Sunnah”. Imam Abu Bakar Muhammad bin Husain Al-Ajuri Rohimahullah menceritakan dalam kitabnya As-Syari’ah hal. 547, beliau berkata:

وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْقَزْوِينِيُّ أَيْضًا قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدَكَ الْقَزْوِينِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ يُوسُفَ الزِّمِّيَّ، يَقُولُ: بَيْنَا أَنَا قَائِلٌ فِي بَعْضِ بُيُوتِ خَانَاتِ مَرْوٍ فَإِذَا أَنَا بِهَوْلٍ عَظِيمٍ، قَدْ دَخَلَ عَلَيَّ، فَقُلْتُ: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: لَيْسَ تَخَافُ، يَا أَبَا زَكَرِيَّا قَالَ قُلْتُ: فَنَعَمْ، مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: وَقُمْتُ وَتَهَيَّأْتُ لِقِتَالِهِ، فَقَالَ: أنا أَبُو مُرَّةَ قَالَ: فَقُلْتُ: لَا حَيَّاكَ اللَّهُ، فَقَالَ: لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكَ فِي هَذَا الْبَيْتِ لَمْ أَدْخُلْ، وَكُنْتُ أَنْزِلُ بَيْتًا آخَرَ، وَكَانَ هَذَا مَنْزِلِي حِينَ آتِي خُرَاسَانَ قَالَ: فَقُلْتُ: مِنْ أَيْنَ أَتَيْتَ؟ قَالَ: مِنَ الْعِرَاقِ قَالَ وَقُلْتُ: وَمَا عَمِلْتَ بِالْعِرَاقِ؟ قَالَ: خَلَّفْتُ فِيهَا خَلِيفَةً، قُلْتُ: وَمَنْ هُوَ؟ قَالَ: بِشْرٌ الْمِرِّيسِيُّ، قُلْتُ: وَإِلَى مَا يَدْعُو؟ قَالَ: إِلَى خَلْقِ الْقُرْآنِ قَالَ: وَآتِي خُرَاسَانَ فَأَخْلُفُ فِيهَا خَلِيفَةً أَيْضًا قَالَ: قُلْتُ: إِيشِ تَقُولُ فِي الْقُرْآنِ أَنْتَ؟ قَالَ: أَنَا وَإِنْ كُنْتُ شَيْطَانًا رَجِيمًا أَقُولُ: " الْقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ

Telah mengabarkan kepadaku Abu Abdillah Al-Qozwini, dia berkata telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abdak al-Qozwini, dia berkata aku mendengar Yahya bin Yusuf Az-Zimmi berkata,”Ketika aku sedang tidur siang di salah satu rumah penginapan kota  Marw (sebuah kota kuno di wilayah khurosan. Biasa disebut juga Merv dan Marwa. Sekarang terletak kota Mary,Turkmenistan-Pent), tiba-tiba datanglah hantu besar. Maka aku bertanya,’Siapa kamu?’ Dia menjawab,’Jangan takut, wahai Abu Zakariya!’ Aku bertanya lagi,’Baiklah, siapa kamu?’ Aku pun bangun bersiap-siap melawannya.’ Maka dia berkata,’Aku Abu Murroh.’ Maka aku berkata,’Semoga Allah tidak membuatmu bahagia.’ Maka dia berkata,’Seandainya aku tahu engkau ada di dalam rumah ini maka aku tidak akan masuk dan akan singgah di rumah yang lain, sedangkan ini adalah persinggahanku ketika aku mendatangi Khurosan.’ Aku berkata,’ Dari mana asalmu?’ Dia menjawab,’Dari Iraq,’ Aku bertanya lagi,’Apa yang telah kamu lakukan di Iraq?’ Dia menjawab,’Aku meninggalkan seorang Kholifah?’ Aku bertanya,’Siapa dia?’ Dia menjawab,’Bisyr al-Marisi.’ Aku bertanya lagi,’Apa yang Dia dakwahkan?’ Dia menjawab,’Al-Qur’an Makhluk,’ Lalu dia meneruskan perkataannyya,’ Dan aku mendatangi khurosan ini juga mengikuti seorang kholifah.’ Aku bertanya lagi,’Apa yang kamu katakan tentang al-Qur’an?’ Dia menjawab,’ Meskipun aku adalah syetan yang terkutuk namun aku mengatakan Al-Qur’an itu kalamullah bukan makhluk.’” (As-Syari’ah no. 195)

Faedah kisah

1.    Dalam kisah tersebut, syetan itu mengaku berkeyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Keyakinan ini adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Aqidah ini meyakini bahwa Al-Qur’an yang kita baca, yang tertulis dengan huruf dalam mushaf dan diperdengarkan dengan suara adalah kalamullah bukan makhluk. Abdullah bin Imam Ahmad meriwayatkan ucapan Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahlus Sunnah:

سَأَلْتُ أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ قَوْمٍ، يَقُولُونَ: لَمَّا كَلَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُوسَى لَمْ يَتَكَلَّمْ بِصَوْتٍ فَقَالَ أَبِي: «بَلَى إِنَّ رَبَّكَ عَزَّ وَجَلَّ تَكَلَّمَ بِصَوْتٍ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ نَرْوِيهَا كَمَا جَاءَتْ»
“Aku bertanya kepada Bapakku rohimahullah tentang suatu kaum yang mengatakan,’Ketika Allah عَزَّ وَجَلَّ berbicara kepada Musa, Dia tidak berbicara dengan suara,’ Maka Bapakku berkata,’Tidak demikian, Sesungguhnya Robmu عَزَّ وَجَلَّ berbicara dengan suara, hadist-hadist ini kami  riwayatkan sebagaimana adanya’”(As-Sunnah no. 533)

Imam Ahmad Juga berkata:

وَالْقُرْآن كَلَام الله وَلَيْسَ بمخلوق وَلَا يصف وَلَا يَصح أَن يَقُول لَيْسَ بمخلوق قَالَ فَإِن كَلَام الله لَيْسَ ببائن مِنْهُ وَلَيْسَ مِنْهُ شَيْء مخلوقا وَإِيَّاك ومناظرة من أخذل فِيهِ وَمن قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيره وَمن وقف فِيهِ فَقَالَ لَا أَدْرِي مَخْلُوق أَو لَيْسَ بمخلوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله فَهَذَا صَاحب بِدعَة مثل من قَالَ هُوَ مَخْلُوق وَإِنَّمَا هُوَ كَلَام الله لَيْسَ بمخلوق

“Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Tidak mensifati dan tidak benar hanya mengatakan bukan makhluk, lalu dia berkata sesungguhnya kalamullah itu tidak terpisah dari Dzat-Nya, dan yang berasal dari Dzatnya itu bukan makhluk. Engkau harus menjauhi berdebat dengan orang yang terjerumus dalam masalah ini dan orang yang mengatakan masalah lafadz (lafadzku dalam membaca al-Qur’an adalah makhluk-pent) dan yang lainnya. Barangsiapa bertawaquf (abstain) lalu mengatakan aku tidak tahuAl-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk , namun sesungguhnya dia adalah kalamullah, maka orang ini adalah ahli bid’ah seperti orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk” (Ushulus Sunnah Hal. 22-23)

Aqidah ahlus Sunnah wal Jama'ah ini berbeda dengan aqidah jahmiyyah atau mu’tazilah yang mengatakan al-Quran adalah makhluk. Berbeda pula dengan aqidah Asy’ariyyah yang mengatakan bahwa al-Quran yang berupa kalamullah yang ada pada Dzat Allah (Qoim bi nafsishi) atau kalam nafs yang tidak dapat dinyatakan dengan suara dan huruf adalah bukan makhluk sedangkan kalam  lafadz yang berupa al-Qur’an yang kita baca dalam mushaf dan kita perdengarkan suaranya adalah makhluk. Dan al-qur’an ini merupakan ungkapan yang diucapkan oleh malaikat Jibril atau oleh Rosulullah sendiri. Berikut Ucapan tokoh-tokoh Asy’ariyyah:

Al-Qodhi Abu Bakar al-Baqilani berkata:

ولا يجوز أن يطلق على كلامه شيء من أمارات الحدث من حرف ولا صوت
“Dan tidak boleh mengungkapkan sedikitpun terhadap Kalam-Nya berupa tanda-tanda hadats (sesuatu yang baru)  seperti huruf dan suara”(Al-Inshof hal. 111)

Al-Baijuri berkata:

ومذهب أهل السنة أن القرآن بمعنى الكلام النفسي ليس بمخلوق، وأما القرآن بمعنى اللفظ الذي نقرأه فهو مخلوق
Dan Madzhab Ahlus sunnah (Asy’ariyyah-pent) berkeyakinan bahwa Al-Quran dengan makna Kalam Nafsi bukan makhluk sedangkan al-Qur’an dengan makna Lafadz yang kita baca adalah makhluk.” (Syarh Jauharotut Tauhid hal.94)

2.    Syetan itu tidak serba tahu karena syetan tersebut mengatakan”Seandainya aku tahu engkau ada di dalam rumah ini maka aku tidak akan masuk dan akan singgah di rumah yang lain.” Kalau dia tidak tahu orang yang ada di dalam rumah tentu dia lebih tidak tahu terhadap sesuatu yang ghoib. Maka sangat mengherankan bila ada orang yang mendatangi dukun yang berkolaborasi dengan jin, untuk menanyakan dan mengetahui barangnya yang hilang.waiyyadzu billah.

Oleh Abu Failaqullah as-Syihaby
Malam berbintang di sudut utara kabupaten Lamongan Jatim, Jum’at, 15 Jumadis Tsani 1439 H/ 2 Maret 2018 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.