Makmum Masbuq yang Mendapati Imam Sedang Ruku’(Bagian Kedua) - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Minggu, 18 Maret 2018

Makmum Masbuq yang Mendapati Imam Sedang Ruku’(Bagian Kedua)

Dalam bagian pertama (lihat Bagian Pertama) telah diuraikan penjelasan syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin tentang apa yang diperbuat oleh makmum masbuq yang mendapati imam sedang ruku’. Apakah dia mengqodho’ roka’at atau tidak? Dalam bagian tersebut telah dinukil pendapat beliau ketika menjelaskan hadist berikut:

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ - رضي الله عنه - أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ رَاكِعٌ, فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ,ثم مشى إلى الصف و ذكر للنبي ﷺ, فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: «زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا، وَلَا تَعُدْ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وَزَادَ أَبُو دَاوُدَ فِيهِ: فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ, ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ.
Dan dari Abu Bakroh رضي الله عنه, bahwasanya dia mendatangi Nabi ﷺ, sedangkan beliau dalam keadaan sedang ruku’, Lalu dia pun ruku’ sebelum sampai kepada shof (barisan sholat), kemudian dia berjalan menuju shof. Maka hal itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ, maka beliau ﷺ berkata kepadanya,’Semoga Allah menambahimu hasrat (kepada kebaikan) dan jangan ulangi!” diriwayatkan oleh Imam Bukhori, sedangkan Imam Abu Dawud menambahkan lafadz,’Lalu dia ruku’ di luar shof kemudian berjalan menuju shof.”

Dalam bagian kedua ini akan ditampilkan penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau رحمه الله memasukkan hadist di atas dalam pembahasan beliau di dalam kitab Silsilah Al-Ahadist As-Shohihah nomor 230.

Syaikh al-Albani رحمه الله berkata:

فإن قوله صلى الله عليه وسلم: " لا تعد " يحتمل أنه نهاه عن كل ما ثبت أنه في هذه الحادثة، وقد تبين لنا بعد التتبع أنها تتضمن ثلاثة أمور:
......الأول: اعتداده بالركعة التي إنما أدرك منها ركوعها فقط
maka sesungguhnya ucapan beliau ﷺ,’ لا تعد’’jangan engkau ulangi’ mencakup larangan beliau terhadap setiap perbuatan dalam peristiwa ini. Namun setelah mengamati secara jeli maka jelas larangan itu mencakup tiga masalah:
Yang pertama adalah anggapan mendapatkan roka’at yang didapat karena semata-mata mendapati ruku’ saja…….

Kemudian beliau رحمه الله melanjutkan:

أما الأمر الأول، فالظاهر أنه لا يدخل في النهي، لأنه لو كان نهاه عنه لأمره بإعادة الصلاة لكونها خداجا ناقصة الركعة، فإذ لم يأمره بذلك دل على صحتها، وعلى عدم شمول النهي الاعتداد بالركعة بإدراك ركوعها

“Adapun masalah yang pertama, maka dhohirnya tidak masuk dalam larangan karena  seandainya beliau melarangnya pasti beliau menyuruhnya mengulangi sholat karena keadaan sholatnya kurang sempurna roka’atnya. Maka ketika beliau tidak menyuruh mengulanginya maka hal itu menunjukkan syahnya sholat dan menunjukkan bahwa larangan tidak mencakup anggapan memperoleh roka’at dengan mendapati ruku’.” (Silsilah Al-Ahadist As-Shohihah : 1/458)

Dari penjelasan tersebut, artinya syaikh al-Albani  رحمه الله berpendapat bahwa makmum yang mendapati ruku’ imam maka dia telah mendapatkan roka’at sehingga dia tidak mengqodho’ dan menyempurnakan sholatnya. 

Di bagian lain dalam kitab ini ketika menjelaskan hadist nomor 229, beliau juga menyebutkan atsar sahabat Abdullah bin Mas’ud yang beliau nilai shohih yang mendukung pendapat ini.

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ، مِنْ دَارِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَلَمَّا تَوَسَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ الْإِمَامُ، فَكَبَّرَ عَبْدُ اللَّهِ، ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ، ثُمَّ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ، حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الصَّفِّ، حَتَّى رَفَعَ الْقَوْمُ رُءُوسَهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا قَضَى الْإِمَامُ الصَّلَاةَ قُمْتُ أَنَا، وَأَنَا أَرَى لَمْ أُدْرِكْ، فَأَخَذَ بِيَدِي عَبْدُ اللَّهِ فَأَجْلَسَنِي، وَقَالَ: «إِنَّكَ قَدْ أَدْرَكْتَ»

Dari Zaid bin Wahab, ia berkata,”Aku keluar bersama Abdullah (Ibnu Mas’ud) dari rumahnya menuju masjid. Tatkala kami sampai  di tengah masjid imam pun ruku’, maka Abdullah takbir lalu ruku’, dan aku pun ruku’ bersamanya, kemudian kami berdua berjalan sampai tiba di shof, dan orang-orang pun mengangkat kepalanya.’ Maka ketika imam selesai sholat aku pun berdiri karena aku berpendapat aku belum mendapatkan roka’at, lalu Abdullah memegang tanganku dan mendudukkanku, lalu berkata,’Engkau telah mendapatkannya.’”(Dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf no. 2622, At-Thohawi dalam Syarh Ma’ani al-Atsar no 2322, at-Thobroni dalam Mu’jam al-Kabir no. 9355, al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro no. 2587)

Kemudian beliau رحمه الله menjelaskan:

وهذه الآثار تدل على شيء آخر غير ما دل الحديث عليه. وهو أن من أدرك
الركوع مع الإمام فقد أدرك الركعة، وقد ثبت ذلك من قول ابن مسعود وابن عمر
بإسنادين صحيحين عنهما، وقد خرجتهما في " إرواء الغليل "
“Dan atsar-atsar ini menunjukkan hukum yang lain selain yang ditunjukkan oleh hadist (Hadist no. 229-Pent), yaitu bahwa barangsiapa yang mendapati ruku’ imam maka dia telah mendapatkan roka’at. Yang demikian itu telah dikuatkan oleh perkataan Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar dengan sanad yang shohih yang aku terbitkan dalam kitab Irwa’ al-Gholil.” (Ibid: 1/456)

Berikut atsar-atsar yang disebutkan syaikh al-Albani dalam Irwa’ al-Gholil yang beliau anggap shohih:


عَنْ عَبْدِ اللهِ يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ قَالَ: " مَنْ لَمْ يُدْرِكِ الْإِمَامَ رَاكِعًا لَمْ يُدْرِكْ تِلْكَ الرَّكْعَةَ "
Dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata,”Barangsiapa yang tidak mendapati imam ruku’ maka dia tidak mendapati roka’at itu.”(Riwayat al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro no.2578)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: «إِذَا جِئْتَ وَالْإِمَامُ رَاكِعٌ , فَوَضَعْتَ يَدَيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ فَقَدْ أَدْرَكْتَ»
Dari Ibnu Umar, beliau berkata,” Jika kamu datang sedangkan imam sedang ruku’, lalu kamu meletakkan kedua tanganmu di atas lututmu sebelum imam mengangkat kepalanya, maka kamu telah mendapatkannya.”(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalamm Mushonnaf no. 2520)

Ucapan Ibnu Umar ini  juga  diriwayatkan Imam Baihaqi:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: " مَنْ أَدْرَكَ الْإِمَامَ رَاكِعًا، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ الْإِمَامُ رَأْسَهُ، فَقَدْ أَدْرَكَ تِلْكَ الرَّكْعَةَ "
Dari Ibnu Umar, bahwasanya beliau  berkata,” Barangsiapa  yang mendapati imam sedang ruku’, lalu dia ruku’ sebelum imam mengangkat kepalanya, maka dia telah mendapati  roka’at itu.”(Riwayat al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro no.2580)

Oleh Abu Failaqullah as-Syihaby
Selepas Ashar di kawasan utara kabupaten Lamongan Jatim, Ahad, 1 Rojab 1439 H/ 18 Maret 2018 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.