Tidak Menjadi Pribadi Yang Plin-Plan (Imma’ah) - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Minggu, 15 Januari 2017

Tidak Menjadi Pribadi Yang Plin-Plan (Imma’ah)

Sebuah fenomena akhir-akhir ini (1437 H -1438 H/2016 M-2017 M), segerombolan orang berdiri atau duduk-duduk di pinggir jalan raya sambil membawa tulisan tertentu, menunggu bus lewat. Kemudian kalau ada bus lewat, mereka mengangkat tulisan ke arah bus atau memberi isyarat tertentu dengan jari-jari mereka. Tujuannya, agar sopir bus membunyikan klakson khasnya yang membuat mereka senang. Inilah fenomena yang biasa mereka sebut om telolet om, karena tulisan yang mereka angkat adalah berbunyi demikian.

Kalau dipikir secara mendalam, kesenangan apakah yang mereka dapat, paling-paling hanya menuruti hawa nafsu dan buang-buang waktu. Tidak ada kebaikan yang mereka dapat, yang ada hanya keburukan yang mereka peroleh.

Seorang muslim yang baik itu akan selalu mengambil manfaat dari perbuatannya untuk kebaikan dan akan menghindari perbuatan yang sia-sia yang tidak ada manfaatnya. Rosulullah shollalhu aliahi wasallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Salah satu tanda kebaikan Islam seseorang itu adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat baginya.”(HR. Ahmad dalam Musnad no.1737, Turmudzi no. 2317, dinilai shohih oleh syaikh Ahmad Syakir tahqiq Musnad Ahmad dan syaikh Al-Albani dalam Sunan Turmudzi)

Selain Kegiatan seperti itu tidak bermanfaat, ia juga bisa menimbulkan bahaya atau kecelakan bagi sopir bus yang terganggu konsentrasinya. Rosulullah telah melarang kegiatan seperti ini, yaitu melarang duduk-duduk (nongkrong) di pinggir jalan dan mengganggu orang yang lewat.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ، فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ» قَالُوا: وَمَا حَقُّهُ؟ قَالَ: «غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ الْأَذَى، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ»

Dari Abu Sa’id al-Khudri, “Dari Nabi shollallahu ‘Alaihi wa sallam, beliau bersabda,’Jauhilah oleh kalian duduk-duduk di pinggir jalan!’ para sahabat berkata,’Wahai Rosulullah, kami memerlukan bermajlis untuk berbincang-bincang.’ Rosulullah bersabda,’Jika kalian enggan dengan alasan majlis, maka berikanlah jalan itu haknya.’ Mereka bertanya,’Apa haknya?’ belaiu menjawab,’Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, memerintah yang baik dan melarang yang mungkar.’” (HR. Bukhori no. 6229, Muslim no. 2161)

Orang yang melakukan kegiatan seperti ini, pada dasarnya adalah orang muslim yang telah kehilangan ghirroh dan izzah keislamannya. Mereka melakukan awalnya hanya karena ikut-ikutan. Mereka orang plin-plan yang tidak mempunyai konsistensi diri. Mereka mudah teromabang ambing oleh badai fitnah trend gaya baru.
Pribadi yang plin-plan seperti ini sebenarnya adalah pribadi yang bingung, tidak punya arah tujuan hidup. Pribadi ini sebenarnya telah diperingatkan oleh generasi salafus Sholih.

عَنْ مَعْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ: «لَا يَكُونَنَّ أَحَدُكُمْ إِمَّعَةً» قَالُوا: وَمَا إِمَّعَةً؟ قَالَ: «يَجْرِي مَعَ كُلِّ رِيحٍ»

Dari Ma’n bin Abdur Rohman dari bapaknya, dia berkata,”Abdullah bin Mas’ud berkata,’Sungguh janganlah kalian menjadi imma’ah (plin-plan).’ Orang bertanya,’Apa itu imm’ah?’ Beliau menjawab,’Berjalan bersama setiap angin.’(Masawi’ul akhlaq lil Khoro’ithi no. 287)

Dalam riwayat lain beliau menjelaskan lebih rinci ucapannya:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللهِ: «لَا يَكُونُ أَحَدُكُمْ إِمَّعَةً» ، قَالُوا: وَمَا الْإِمَّعَةُ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ قَالَ: يَقُولُ: «إِنَّمَا أَنَا مَعَ النَّاسِ إِنِ اهْتَدَوُا اهْتَدَيْتُ، وَإِنْ ضَلُّوا ضَلَلْتُ، أَلَا لَيُوَطِّنُ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ عَلَى إِنْ كَفَرَ النَّاسُ أَنْ لَا يَكْفُرَ»

Dari Badur Rohman bin Yazid, dia berkata,”Abdullah berkata,’Janganlah kalian menjadi Imma’ah (plin-plan)’ Orang-orang bertanya,’Wahai Aba Abdir Rohman, apa itu imma’ah?’ beliau menjawab,’Sesungguhnya aku bersama orang banyak, bila mereka dapat petunjuk maka akupun demikian, bila mereka sesat akaupun demikian, ingatlah, setiap kalian harus konsisten, bila orang banyak yang kafir janganlah ia menjadi kafir!’”(Mu’jam al-Kabir Thobroni no. 287)
Syaikh Al-Albani berkata tentang riwayat-riwayat ini:

وَيصِح وَقفه على ابْن مَسْعُود

“Riwayat ini shohih mauquf (terhenti) pada Ibnu Mas’ud.”(Misykatul Masobih: 3/1418)
Oleh sebab itu Muslim yang mempunya izzah islam yang tinggi tidak mudah terombang-ambing dengan budaya yang tidak bermanfaat ini. Wallahu A’lam

Oleh Abu Hasan as-Syihaby
Gerimis pagi di sudut utara kabupaten Lamongan Jatim, Senin, 18 Robi’uts Tsani 1438 H/ 16 Januari 2017 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.