Imam Ahmad Tidak Mau Menulis Hadist Dari Orang-Orang Yang Memenuhi Seruan Mihnah (Cobaan) - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Minggu, 08 Januari 2017

Imam Ahmad Tidak Mau Menulis Hadist Dari Orang-Orang Yang Memenuhi Seruan Mihnah (Cobaan)

Sebagaimana yang telah masyhur, di masa Imam Ahmad, terjadi fitnah atau cobaan pemaksaan aqidah batil ‘Al-Qur’an adalah makhluk’, oleh kholifah kepada seluruh rakyatnya termasuk para Ulama’. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah satu ulama’ yang menentang dan tetap tegar tidak memenuhi seruan tersebut. Beliau rela dipenjara dan dipukuldemi mempertahankan aqidah yang lurus ‘Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk ‘.Meskipun demikian, adapula para ulama yang menjawab seruan cobaan ini dengan berbagai alasan.

Sikap Imam Ahmad juga begitu tegas terhadap ulama’-ulama yang memenuhi seruan cobaan ini. Beliau memutuskan untuk tidak menulis hadist dan mengambil ilmu dari mereka.Imam Dzahabi rohimahullah berkata:

قَالَ سَعِيْدُ بنُ عَمْرٍو البَرْذَعِيُّ: سَمِعْتُ الحَافِظَ أَبَا زُرْعَةَ الرَّازِيَّ يَقُوْلُ:
كَانَ أَحْمَدُ بنُ حَنْبَلٍ لاَ يَرَى الكِتَابَةَ عَنْ أَبِي نَصْرٍ التَّمَّارِ، وَلاَ عَنْ يَحْيَى بنِ مَعِيْنٍ، وَلاَ عَنْ أَحَدٍ مِمَّنْ امْتُحِنَ فَأَجَابَ.

Said bin Amr al-Bardza’i berkata,”Aku mendengar Al-Hafidz Abu Zur’ah berkata,’Ahmad bin Hanbal berpendapat tidak menulis hadist dari Abi Nasr At-Tamr, Yahya bin Ma’in, dan tidak dari seorangpun yang menjawab seruan cobaan.”  (Siyar a’lamin Nubala’: 11/87,Muassasatur Risalah, cet. Ketiga,1405 H, via Maktabah Syamelah)

Bahkan, Imam Ahmad menghajr (memboikot) dan tidak mengucapkan salam kepada Yahya bin Main yang menjawab seruan cobaan dengan ijtihadnya. Abu Bakar al-Marudzi berkata:

جاءَ يَحيى بن مَعِين، فدخل على أحمد ابن حنبل وهو مَريض، فسلّم فلم يرد عليه السلام، وكان أحمد قد حَلف بالعهد لا يكلّم أحداً ممن أجاب حتى يلقى الله عز وجل، فما زال يَحيى يعتذر، ويقول: حديث عمّار، وقال الله تعالى: {إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ}، فقلب أحمد وجهه إلى الجانب الآخر، فقال يحيى: أُف، وقام وقال: لايقبل لنا عذراً، فخرجتُ بعده وهو جالس على الباب، فقال: أيّ شيءٍ قال أحمدُ بعدي؟ قلتُ: يحتجُّ بحديث عمار! وحديث عمار: "مَررتُ وهم يَسبّونَك فَنهَيتُهم فَضَربوني" وأنتم قيلَ لكم: نُريد أن نَضربكم. فسمعت يحيى يقول: مُر يا أحمد، غَفر الله لكَ، فما رأيِتُ والله تحت أديم سماءِ الله أفقه في دين الله مِنك.

“Suatu ketika,Yahya bin Ma’in datang, lalu dia masuk menemui Ahmad bin Hanbal yang lagi sakit. Dia mengucapkan salam namun tidak dijawab, karena Imam Ahmad telah berjanji tidak berbicara kepada seorangpun yang menjawab seruan cobaan sampai beliau bertemu dengan Allah عز وجل. Maka Yahya terus-menurus mengemukakan alasan hadist Ammar (Ammar bin Yasir-pent) dan fiman Allah ta’ala:
إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
kecuali orang yang dipaksa kafir sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanan (QS. An-Nahl: 106)
Maka Imam Ahmad membalikkan badannya ke sisi lain. Kemudian Yahya berkata,’Ah’ lalu dia berdiri sambil berkata,’Dia tidak menerima alasan kita.’ Lalu aku menyusulnya keluar sedangkan dia duduk di pintu. Dia bertanya,’Apa yang diucapkan Ahmad tadi?’ Aku menjawab,’Dia berhujjah dengan hadist Ammar! Sedangkan hadist Ammar berbunyi:

مَررتُ وهم يَسبّونَك فَنهَيتُهم فَضَربوني

‘Aku lewat sedangkan mereka mencacimu (wahai Rosulullah-pent) maka aku melarang mereka. Lalu mereka memukulku.’
Sedangkan kalian hanya diancam,’Kami akan memukul kalian.’ Kemudian akupun mendengar Yahya berkata,’Pergilah wahai Ahmad! Semoga Allah mengampunimu, maka demi Allah, aku tidak pernah melihat di kolong langit ini orang yang lebih faham agama Allah ini daripada engkau.”(Thobaqotul Hanabilah oleh Ibnu Abi Ya’la:1/402, Tahqiq Muhammad Hamid Fiqi, Darul Ma’arif,via Maktabah Syamelah)

Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh sebagian ulama’ dalam memenuhi seruan cobaan ini tidaklah melangggar syariat. Karena ada sebagian diantara mereka yang melakukannya karena bertauriyah, yaitu mengucapkan ucapan yang berbeda antara lafadz dan keinginan hatinya. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan Yahya bin Ma’in dan Muhammad bin Muqotil Ar-Rozi.

Ibnu Habib an-Naisaburi rohimahullah meriwayatkan:

أخبرنا يوسف بن أحمد بن محمد بن قيس السنجري قال أخبرني عبد الله بن محمد الدينوري قال حدثنا إسحاق بن إبراهيم البستي عن أبيه قال سمعت يحيى بن معين يقول: لما ادخلت على الخليفة قال لي ما تقول في القرآن؟ قلت مخلوق، عنيت به قرآن بنت تمام

Telah mengabarkan kepada kami Yusuf bin Ahmad bin Muhammad bin Qois As-Sanjari, dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Muhammad Ad-Dainawari, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Ibrohin al-Busti dari bapaknya, ia berkata,”Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata,’Tatkala aku dihadapkan kepada kholifah, ia bertanya kepadaku,’Apa pendapatmu tentang al-Qur’an?’ maka aku menjawab,’Makhluk, maksud jawabanku adalah Qur’an binti Tamam (nama seorang perempuan)’.”(Uqola’ul Majanin hal.39, tahqiq Khodimus Sunnah  al-Muthohharoh Abu Hajir Muhammad as-Sa’id, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut, Libanon, 1405 H/1985 M, Maktabah Syamelah)

Beliau juga meriwayatkan:

حدثنا أبو القاسم منصور بن العباس الفقيه ببوشنج قال حدثنا أبو عبد الله محمد بن محمد بن عبد الرحمن السلمي قال: دعا الخليفة أيام المحنة محمد بن مقاتل الرازي وأبا الصلت عبد السلام بن صالح الفهندري فقال لمحمد بن مقاتل: ما تقول في القرآن؟ قال أقول: التوراة والانجيل والزبور والفرقان فإن هذه الأربعة مخلوقة وأشار إلى أصابعه الأربع، فنجا

Telah menceritakan kepadaku Abul Qosim Manshur bin Al-Abbas al-Faqih di kota Busyanj, dia berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Abdur Rohman as-Sulami, dia berkata,”Pada masa cobaan, kholifah memanggil Muhammad bin Muqotil Ar-Rozi dan Abus Sholt Abdus Salam bin Sholih Al-Fahandari. Dia betanya kepada Muhammad bin Muqotil,’Apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?’ Dia menjawab,’Aku katakan, At-Taurot, Injil, Zabur dan al-Furqon, keempat-empatnya ini adalah makhluk.’ sambil menunjuk empat jari-jemarinya, maka dia selamat.”(Ibid)

Disamping itu, ada di antara mereka yang melakukan karena  berijtihad dalam memahami hadist atau ayat. Seperti yang dilakukan oleh Yahya bin Ma’in dalam memahami Surat An-Nahl ayat 106 dan hadist Ammar bin Yasir yang dipaksa mengucapkan kekufuran. Jadi apa yang dilakukan sebagian mereka sebenarnya tidaklah salah

Imam ad-Dzahabi rohimahullah berkata:

قُلْتُ: هَذَا أَمرٌ ضَيِّقٌ، وَلاَ حَرَجَ عَلَى مَنْ أَجَابَ فِي المِحْنَةِ، بَلْ وَلاَ عَلَى مَنْ أُكرِهَ عَلَى صَرِيحِ الكُفْرِ عَمَلاً بِالآيَةِ - وَهَذَا هُوَ الحَقُّ -.
وَكَانَ يَحْيَى -رَحِمَهُ اللهُ- مِنْ أَئِمَّةِ السُّنَّةِ، فَخَافَ مِنْ سَطْوَةِ الدَّوْلَةِ، وَأَجَابَ تَقِيَّةً.

“Aku katakan,’Ini adalah perkara sulit, tidak  masalah bagi orang yang menjawab seruan cobaan, bahkan tidak masalah pula bagi orang yang terpaksa mengucapkan sejelas-jelasnya  ucapan kufur berdasarkan ayat tersebut (QS, An-Nahl: 106, pent). Dan inilah yang benar. Yahya rohimahullah adalah termasuk para imam sunnah, dia takut kekuasaan negara, lalu dia menjawab cobaan dengan bertaqiyyah (baca : tauriyyah).”(Siyar a’lamin Nubala’: 11/87,Muassasatur Risalah, cet. Ketiga,1405 H, via Maktabah Syamelah)

Lalu kenapa Imam Ahmad tidak mau menulis hadist dari mereka dan bahkan memboikot mereka. Imam Ibnul Jauzi rohimahullah menjawabnya:

فإن قال قائل: إذا ثبتَ أن القوم أجابوا مُكرهين فقد استعملوا الجائز، فلمَ هَجرهم أحمد؟ فالجوابُ من ثلاثة أوجه
أحدها: أنَّ القوم تُوعِّدوا ولم يُضربوا فأجابوا، والتواعد ليس بإكراه، وقد بان هذا بما ذكرناه من حديث يَحيى بن مَعِين.
والثاني: أنه هجرهم على وجه التأديب، ليعلم العوام تعظيم القول الذي أجابوا عليه، فيكون ذل حفظاً لهم من الزَّيغ.
والثالث: أن مُعظم القوم لما أجابوا قَبلوا الأموال وترددوا إلى القوم وتقربوا إليهم، فَفعلوا ما لا يجوز، فلهذا استحقوا الذمَّ والهجر.

Jika ada yang mengatakan,’Jika telah tetap bahwa orang-orang ini menjawabnya karena terpaksa maka sungguh mereka telah menggunakan sesuatu yang boleh. Lalu kenapa Imam Ahmad memboikot mereka? Maka jawabannya ada tiga:
Pertama, bahwa orang-orang ini diancam dan belum dipukul lalu mereka memenuhinya, sedangkan ancaman tidak termasuk kategori hukum terpaksa. Hal ini jelas sebagaimana yang aku sebutkan pada cerita Yahya bin Ma’in.
Yang kedua, bahwa beliau memboikot mereka adalah untuk mendidik, supaya orang awam tahu besarnya masalah ucapan orang yang menjawab seruan. Maka yang demikian itu menjadi penjaga bagi mereka dari penyimpangan.
Yang ketiga, bahwa ketika para petinggi kaum ini menjawab, mereka menerima harta  dan sering berkunjung dan mendekati kaumnya, maka mereka telah melakukan yang terlarang, oleh sebab itu mereka layak dicela dan diboikot.”(Manaqib al-Imam Ahmad oleh Ibnul Jauzi:1/523-525, 1409 H,Dar Hijr cet kedua, via Maktabah Syamelah)

Jadi, apa yang dilakukan sebagian ulama’ seperti Yahya bin Main, Muhammad bin Muqotil ar-Rozi yang bertauriyah dan berijtihad termasuk dalam kategori yang pertama. Dan menurut Imam Ahmad ijtihad mereka itu salah karena mereka baru diancam belum dipukul. Namun sebenarnya ijtihad merekalah yang benar sebagaimana yang dikatakan Imam Dzahabi di atas. Wallahu A’lam bis Showab.

Di samping itu, ijtihad Imam Ahmad yang tidak mengambil riwayat hadist dari mereka tidaklah bersifat mutlak kebenarannya. Karena masih banyak ulama’ lain yang mengambil hadist dari mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim yang mengambil hadist dari Yahya bin Ma’in. berikut buktinya


حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَمَّادٍ الآمُلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُجَالِدٍ، عَنْ بَيَانٍ، عَنْ وَبَرَةَ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ الحَارِثِ، قَالَ: قَالَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا مَعَهُ إِلَّا خَمْسَةُ أَعْبُدٍ وَامْرَأَتَانِ، وَأَبُو بَكْرٍ»

Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad Al-Amuli , dia berkata, telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ma’in, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Mujallid, dari Bayan, dari Wabaroh, dari Hammam bin Al-Harist, dia berkata,”Ammar bin Yasir berkata,’Aku melihat Rosulullah ﷺ hanya bersama lima orang budak, dua orang wanita dan Abu Bakar.’”(HR. Bukhori no. 3857)

حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، وَهَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، وَحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى، قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمُزَابَنَةِ»

Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ma’in, Harun bin Abdullah dan Husain bin Isa, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dia berkata,”Rosulullah ﷺ melarang jual beli muzabanah.”(HR. Muslim no. 1542)   

Dengan Ijtihad Imam bukhori dan Imam Muslim inilah,  umat ini masih dapat mengambil ilmu dari Yahya bin Ma’in meskipun menurut Imam Ahmad, dia tidak layak diambil ilmunya. Wallahu A’lam bis Showab.
Oleh Abu Hasan as-Syihaby
Ba’da Ashar di kawasan pantura kabupaten Lamongan, Ahad, 10 Robi’uts Tsani 1438 H/ 8 Januari 2017 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.