Akal Bukanlah Dalil Penetapan Sifat-Sifat Allah - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Minggu, 01 Januari 2017

Akal Bukanlah Dalil Penetapan Sifat-Sifat Allah

Penetapan sifat-sifat Allah itu berdasarkan firman Allah dalam Al-Qur’an atau berdasarkan kabar yang diberitakan oleh Rosulullah. Maka kewajiban bagi setiap muslim untuk mengimaninya meskipun tidak mengetahui  dengan akalnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyyah rohimahullah berkata:

ومما يوضح ذلك أن وجوب تصديق كل مسلم بما أخبر الله به ورسوله من صفاته ليس موقوفا على أن يقوم عليه دليل عقلي على تلك الصفة بعينها فإنه مما يعلم بالاضطرار من دين الإسلام أن الرسول إذا أخبرنا بشيء من صفات الله تعالى وجب علينا التصديق به وإن لم نعلم ثبوته بعقولنا 

“Dan yang menjelaskan hal itu adalah bahwa kewajiban setiap muslim dalam membenarkan apa yang dikhabarkan oleh Allah Dan rosul-Nya tentang sifat-sifat-Nya tidaklah berhenti berdasarkan adanya dalil aqli (akal) semata, karena sudah diketahui dengan pasti dari agama Islam bahwasanya ketika Rosulullah mengabarkan kepada kita tentang sifat-sifat Allah ta’ala maka kita wajib membenarkannya meskipun kita belum mengetahui penetapannya dengan akal kita. (Syarh Aqidah al-Asfahaniyyah hal. 44)

Inilah manhaj orang yang bersih fitrahnya, yaitu manhaj Rosulullah, para sahabat dan manhaj ahlus sunnah wal jamaa’ah dan salaful Ummah. Mereka menetapkan sifat sesuai  dengan yang ditetapkan oleh Allah dan sesuai yang dikehendaki oleh Allah. Mereka juga menetapkan sifat yang ditetapkan oleh Allah melalui lisan Rosulullah sesuai dengan maksud yang dikehendaki oleh Rosulullah.

Imam Syafi’I Rohimahullah berkata:

آمنت بالله وبما جاء عن الله، على مراد الله، وآمنت برسول الله، وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله.

“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah. Dan aku beriman kepada Rosulullah dan kepada apa yang datang dari  Rosulullah sesuai dengan maksud Rosulullah.”(Lum’atul I’tiqod hal. 7)

Namun, orang yang hatinya telah menyeleweng maka mereka tidak mengimaninya kecuali telah disesuaikan dengan akal mereka. Maka dengan alasan mensucika Allah ta’ala mereka menta’til yaitu menolak sifat-sifat Allah, atau menta’wil yaitu menyelewengkan sifat-sifat Allah kepada Makna yang tidak dikehendaki oleh Allah, seperti menta’wil sifat istiwa’ bagi Allah (استوى) yang maknanya bersemayam dengan sifat (استولى) yang artinya menguasai. Oleh sebab itu orang seperti ini sejatinya tidak mengimani firman Allah dan ucapan Rosulullah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melanjutkan ucapannya:

ومن لم يقر بما جاء به الرسول حتى يعلمه بعقله فقد أشبه الذين قال الله عنهم: قالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتى مِثْلَ ما أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسالَتَهُ «3» ومن سلك هذا السبيل فهو في الحقيقة ليس مؤمنا بالرسول ولا متلقيا عنه الأخبار بشأن الربوبية ولا فرق عنده بين أن يخبر الرسول بشيء من ذلك أو لم يخبر به فإن ما أخبر به إذا لم يعلمه بعقله لا يصدق به بل يتأوله أو يفوضه وما لم يخبر به إن علمه بعقله آمن به، وإلا فلا فرق عند من سلك هذا السبيل بين وجود الرسول وإخباره وبين عدم الرسول وعدم إخباره

Dan barang siapa yang tidak menetapkan apa yang dibawa oleh Rosulullah sampai dia mengetahui dengan akalnya maka sungguh dia seperti orang yang difirmankan oleh Allah:

قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتَى مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

“Mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada Kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah". Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (QS. al-An’am: 124)

Barangsiapa menempuh jalan ini, maka dia sebenarnya tidaklah beriman terhadap Rosulullah dan tidak menerima pemberitaannya tentang urusan rububiyyah, dan tidak ada beda baginya antara Rosulullah memberitakannya atau tidak. Karena yang dikabarkan oleh Rosul, bila dia tidak mengetahui dengan akalnya, maka dia tidak membenarkannya, malah dia menta’wilnya (memalingkan maknanya kepada makna yang tidak dikehendaki) atau mentafwidhnya (menyerahkan maknanya kepada Allah). Dan apa yang tidak dikhabarkan oleh Rosul, jika dia mengetahui dengan akalnya, maka dia mengimaninya. Oleh sebab itu, maka tidak ada perbedaan bagi orang yang menempuh jalan ini, antara adanya Rosul dan pemberitaannya dengan tidak adanya Rosul dan pemberitaannya. (Syarh Aqidah al-Asfahaniyyah hal. 44)

Oleh Abu Hasan as-Syihaby
Ba’da Ashar di kawasan pantura kabupaten Lamongan Jatim, Ahad, 3 Robi’uts Tsani 1438 H/ 1 Januari 2017 M

Referensi
1.    Al-Qur’an Al-Karim, Maktabah Syamelah.
2.    Lum’atul I’tiqod, Abu Muhammad Muwaffaquddin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad ibnu Qudamah, Wizarotusy Syu-un Al-Islamiyyah Wal Auqof wa ad-Da’wah Wal Irsyad, KSA, cet. Kedua, 1420 H/2000 M, Maktabah Syamelah.
3.    Syarh Aqidah al-Asfahaniyyah, Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah, tahqiq Muhammad bi Riyadh al-Ahmad, Al-Makktabah Al-Ashriyyah, Beirut, cet. Pertama,  1425 H, Maktabah  Syamelah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.