Syari’at Islam Melarang Perayaan Tahun Baru - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Sabtu, 31 Desember 2016

Syari’at Islam Melarang Perayaan Tahun Baru

Sungguh ironis keadaan kaum muslimin saat ini, mereka bagaikan orang yang kebingungan yang terombang ambing oleh ganasnya lautan fitnah. Banyak kaum muslimin saat ini yang bergembira merayakan perayaan tahun baru mengikuti gaya orang-orang kafir paganisme, Yahudi dan orang orang kristen. Mereka bergembira sambil membakar kembang api, meniup terompet dan memakai topi kerucut bila tahun baru telah tiba. Bahkan ada yang melakukan fre sex atau perzinahan. Nau’udzu billah.

Fenomena ini menjadi bukti kebenaran apa yang dikhabarkan oleh Rosulullah ﷺ tentang keadaan umat Islam akhir zaman:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ»  فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: «وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ»

Dari Abi Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari nabi ﷺ , beliau bersabda,”Tidaklah terjadi hari kiamat sampai umatku mengikuti kebiasaan generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, lalu ditanyakan,’wahai Rosulullah, apakah seperti orang Persi dan Romawi?’ beliau bersabda,’Siapa lagi kalau bukan mereka.’”(HR. Bukhari no. 7319)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ» قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ»

Dari Abi Sa’id al-Khudri, dia berkata,”Rosulullah ﷺ bersabda,’Kalian betul-betul akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sekalipun  mereka sampai masuk ke liang dhob (kadal padang pasir) pasti kalian mengikuti mereka.’ Kami bertanya,’Wahai Rosulullah, apakah orang Yahudi dan Nasrani?, beliau menjawab,’Siapa lagi?!’”(HR. Muslim no. 2669)

Perayaan tahun baru adalah hari raya orang kafir, bukti-bukti berikut memberikan pemaparan yang jelas bahwa perayaan tahun baru adalah perayaan orang-orang kafir tempo dulu dan zaman sekarang: 

1.    Bukti sejarah

Konon, 1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun oleh orang-orang Romawi pada tahun 45 SM. Hari itu didekasikan oleh mereka untuk mengagungkan Janus, dewa pintu gerbang dan permulaan, dimana bulan pertama dalam kalender masehi (Januari) terambil darinya. Hal ini menunjukkan, bahwa perayaan tahun baru sebetulnya berasal dari tradisi kaum pagan (penyembah berhala). Pada waktu berikutnya, tanggal 1 Januari ditetapkan oleh orang-orang Kristen sebagai hari khitanan Yesus, hari kedelapan setelah kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember. Hal ini masih berlaku di beberapa Gereja, seperti Gereja Angkilan dan Lutheran.  Kemudian pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII juga menetapkan 1 Januari sebagai permulaan tahun, bertepatan dengan pesta kehitanan Yesus tersebut. (The World Book Encyclopedia tahun 1984, volume 14, halaman 237 tentang Tahun Baru, http://kajianirenahandono.blogspot.co.id/2015/12/tahun-baru-budaya-paganisme.html, http://en.wikipedia.org/wiki/New_Year’s_Day).

2.    Simbol-simbol yang dipakai dalam perayaan tahun baru

a.    Terompet

Terompet adalah syiar kaum Yahudi. Ketika para sahabat mengusulkan meniup terompet untuk memanggil orang sholat, Rosulullah bersabda:

هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ

“Dia termasuk urusannya orang Yahudi”(HR. Abu Dawud: 498, dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albani dalam Sunan Abi Dawud)

b.    Petasan dan Kembang api

Kembang Api adalah syiar kaum Majusi. Mereka adalah kaun yang mengagungkan api. Ketika para sahabat mengusulkan membakar api untuk memanggil orang sholat, Rosulullah ﷺ bersabda:
ذلك للمجوس

“Itu miliknya orang Majusi (penyembah api)”(HR. Abus Syaikh  dalam al-adzan, Kanjul Ummal: 8/336 tanpa sanad, Jami’ul Ahadist:33/234)

As-Syahrostani rohimahullah berkata:

والمجوس إنما يعظمون النار لمعان فيها، منها أنها جوهر شريف علوي، ومنها أنها ما أحرقت الخليل إبراهيم عليه السلام، ومنها ظنهم أن التعظيم لها ينجيهم في المعاد من عذاب النار.
وبالجملة، هي قبلة لهم, ووسيلة، وإشارة.

“Sesungguhnya orang-orang Majusi mengagungkan api karena beberapa makna, diantaranya api adalah permata agung yang tinggi, api tidak membakar Ibrohim alaihis salam, dan persangkaan mereka bahwa mengagungkan api akan menyelamatkan mereka pada hari kiamat dari siksa api neraka. Secara global ia adalah kiblat, wasilah dan tanda bagi mereka.”(al-Milal Wa an-Nihal: 2/60)

Begitu pula, api adalah syiar orang Mesir Qibti penyembah berhala dalam merayakan perayaan tahun baru an-Nairuz. Al-Maqrizi berkata:

النيروز: هو أوّل السنة القبطية بمصر، وهو أوّل يوم من توت، وسنتهم فيه إشعال النيران والتراش بالماء، وكان من مواسم لهم المصريين قديما وحديثا

“An-Nairuz adalah awal tahun Qibti di Mesir, ia adalah hari pertama bulan Tutin (nama bulan pertama dalam penaggalan Qibti-Pent), kebiasaan mereka dalam An-Nairuz  ini adalah menyalakan api dan menyiramkan air, ia termasuk perayaan orang-orang Mesir Tempo dulu dan sekarang.”(al-Mawa’idz wal-I’tibar: 2/33)

c.    Topi kerucut (Topi sanbenito) adalah tanda yang diberikan kepada kaum muslimin yang telah murtad dari agamanya di Spanyol ketika orang-orang kristen menguasai wilayah tersebut  dan melakukan pembantaian besar-besaran kepada kaum muslimin yang tidak murtad dan masuk agama kristen(Inkuisisi). Sedangkan yang murtad maka diberi tanda.

Dalil-Dalil Tentang Haramnya Perayaan Tahun Baru

Perayaan tahun baru adalah jelas-jelas perayaannya orang-orang kafir. Oleh sebab itu Allah dan Rosulnya melarang merayakan hari raya ini. Berikut dalil-dalil larangannya:

1.    Allah ta’ala berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

TunjukkanlahKami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Q. al-Fatihah : 6-7)

Rosulullah memberi tafsiran bahwa orang yang dimurkai adalah orang Yahudi dan orang yang tersesat adalah orang Nasroni, beliau bersabda:

إِنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمُ الْيَهُودُ، وإنَّ الضَّالِّينَ النَّصَارَى

“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani.”(HR. Ahmad dalam musnad no. 19381, Turmudzi dalam as-Sunan no.2954, dinilai shohih oleh syaikh Ahmad Syakir dalam tafsir at-Thobari no. 195 dan oleh Syaikh al-Albani dalam sunan Turmudzi no. 2954)

Sisi pendalilannya adalah bahwa ketika kita berdo’a agar mendapat hidayah ke jalan yang lurus, maka kita  harus membuktikannya dengan mengikuti jalannya orang-orang yang diberi nikmat dari para nabi dan orang-orang sholeh yang mengikuti mereka serta tidak mengikuti perbuatan orang-kafir baik Yahudi ataupun Nasrani dalam merayakan hari raya tahun baru mereka. Oleh sebab itu maka mengikuti perbuatan orang kafir dalam merayakan hari raya mereka adalah haram.

2.    Firman Allah Ta’ala dalam memberikan sifat terhadap Ibadurrohman:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ

“Dan orang-orang yang tidak menghadiri az-Zur,(QS. Al-Furqon: 72)

Dalam menafsirkan Az-Zur Ibnu Katsir rohimahullah berkata:

وَقَالَ أَبُو الْعَالِيَةِ، وَطَاوُسُ، وَمُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ، وَالضَّحَّاكُ، وَالرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ، وَغَيْرُهُمْ: هِيَ أَعْيَادُ الْمُشْرِكِينَ

“Abul ‘Aliyah, Thowus, Muhammad bin Sirrin, adh-Dhohak, Robi’ bin Ans dan yang lainnya berkata,’dia (az-zur adalah perayaan orang-orang musyrik.’”(Tafsir Ibni Katsir:6/130)

Sisi pendalilannya adalah bahwa salah satu sifat Ibadurrohman, hamba-hamba Allah yang baik adalah tidak menghadiri atau merayakan perayaan orang-orang musyrik seperti perayaan tahun baru. Oleh sebab itu orang  yang menghadirinya bukanlah ciri hamba yang baik. Sehingga menghadiri perayaan orang kafir adalah terlarang.

3.    Hadist Tsabit bin adh-Dhohak:

عن ثَابِتُ بْنُ الضَّحَّاكِ، قَالَ: نَذَرَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْحَرَ إِبِلًا بِبُوَانَةَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ أَنْحَرَ إِبِلًا بِبُوَانَةَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ كَانَ فِيهَا وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ يُعْبَدُ؟» قَالُوا: لَا، قَالَ: «هَلْ كَانَ فِيهَا عِيدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ؟»، قَالُوا: لَا، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَوْفِ بِنَذْرِكَ فَإِنَّهُ لَا وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Dari Tsabit bin Ad-Dhohak, dia berkata,”Seseorang pada zaman Rosulullah pernah bernadzar akan menyembelih unta di Buwanah (Sebuah tempat dekat madinah), lalu dia mendatangi Nabi dan berkata,’Aku telah bernadzar akan menyembelih unta di Buwanah,’ maka Nabi bertanya,’Adakah di situ berhala dari berhala-berhala Jahiliyyah yang disembah?’ para sahabat menjawab,’Tidak.’ Beliau  bertanya lagi,’Apakah di situ diadakan perayaan-perayaan mereka?’ mereka menjawab,’Tidak.’ Lalu Rosulullah berkata,’Penuhilah nadzarmu karena tidak boleh memenuhi nadzar yang bermaksiat kepada Allah.”(HR. Abu Dawud:3313,dishohihkan oleh syaikh al-Albani)

Dalam mengomentari hadist ini, Imam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

وهذا نهي شديد عن أن يُفعل شيء من أعياد الجاهلية على أي وجه كان.

Dan ini adalah larangan tegas untuk merayakan perayaan-perayaan Jahiliyyah dengan cara apapun.”(Iqtidho’ sirothil Mustaqim:1/498)

Syaikh Abdur Rohman bin Nashir as-Sa’di rohimahullah berkata:

ومن هذا السبب نهى الشارع عن مشابهة الكفار في شعارهم وأعيادهم

“Dan karena sebab ini, Pembuat Syari’at (Allah) melarang menyerupai orang-orang kafir dalam mengikuti syi’ar- syi’ar (simbol mereka dan merayakan perayaan-perayaan mereka.”(al-Qoulus Sadid hal.61)

4.    Hadist  Anas bin Malik:

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى، وَيَوْمَ الْفِطْرِ "

Dari Anas, beliau berkata,”Rosulullah datang di kota Madinah sedangkan penduduknya memiliki dua hari yang dibuat bermain-main, maka beliau bertanya,’Dua hari apa ini?’ mereka menjawab,’Kami biasa bermain-main pada dua hari tersebut di masa Jahiliyyah,’ Maka Rosulullah berkataSesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idhul Adha dan Idhul Fitri.”(HR. Abu Dawud:1134, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sunan Abi Dawud)

Dalam menafsirkan dua hari tersebut, Mula Ali al-Qori berkata:

وَهُمَا: يَوْمُ النَّيْرُوزِ، وَيَوْمُ الْمِهْرَجَانِ

“Keduanya adalah hari Nairuz dan Mahrojan.”(Mirqotul Mafatih:3/1069)

Para Ulama menyatakan bahwa hari Nairuz adalah perayaan tahun baru orang-orang kafir. Ibnu Katsir rohimahullah berkata:

قال ابن الأثير: كَانَ أَوَّلُ يَوْمٍ مِنْهَا يَوْمَ السَّبْتِ، وَكَانَ يَوْمَ النَّيْرُوزِ، وَذَلِكَ أَوَّلُ سَنَةِ الْفُرْسِ، وَاتَّفَقَ أن ذلك كان أول سنة الروم
،
“Ibul Atsir berkata,”Hari pertama perang khittin adalah hari Sabtu, dan itu adalah hari Nairuz, tahun baru orang Persi dan disepakati pula bahwa itu adalah tahun baru orang Romawi.”(Bidayah wa an-Nihayah:12/392)

Al-Maqrizi rohimahullah berkata:

وسئل ابن عباس عن النيروز لم اتخذوه عيدا، فقال: إنه أوّل السنة المستأنفة وآخر السنة المنقطعة، فكانوا يستحبون أن يقدموا فيه على ملوكهم بالطرف، والهدايا، فاتخذته الأعاجم سنّة.
والنوروز أوّل سنة الفرس

Ibnu Abbas ditanya tentang Nairuz yang dijadikan hari raya, beliau menjawab,’Karena ia adalah hari pertama tahun yang akan datang  dan hari terakhir tahun yang telah berlalu, maka biasanya mereka suka mempersembahkan lelucon dan hadiah pada hari itu untuk raja-raja meraka, lalu oleh orang ‘Ajam dijadikan kebiasaan.”(al-Mawa”idh:2/33-34)

Al-Fairuz Abadi rohimahullah berkata:

والنَّيْرُوزُ: أوَّلُ يومٍ من السنةِ

“Nairuz adalah hari pertama tahun (Tahun baru).”(al-Qomus al-Muhith:526-527)

Oleh sebab itu hari yang dilarang bermain-main oleh Rosulullah adalah Nairuz yaitu perayaan tahun baru yang merupakan perayaannya orang kafir. al-Majd Ibnu Taimiyah rohimahullah dalam mengomentari hadist ini berkata:

الحديث يفيد حرمة التشبه بهم في أعيادهم لأنه لم يقرهما على العيدين الجاهليين  ولا تركهم يلعبون فيهما على العادة

“Hadist ini menunjukkan haramnya menyerupai orang-orang kafir dalam merayakan perayaan mereka karena beliau tidak mengakui keduanya karena merupakan dua hari raya jahiliyyah serta beliau tidak membiarkan mereka bermain-main pada hari tersebut sebagai kebiasaan.”(Faidul Qodir: 4/511)

5.     Hadist Aisyah rodhiyallahu ‘anha:

Rosulullah  ﷺ bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya, dan ini adalah hari raya kita.”(HR. Bukhori:952)

Ibnu Hajar rohimahullah berkata:

وَاسْتُنْبِطَ مِنْهُ كَرَاهَةُ الْفَرَحِ فِي أَعْيَادِ الْمُشْرِكِينَ وَالتَّشَبُّهِ بِهِمْ

“Dan dapat ditarik kesimpulan hukum dari hadist ini tentang dibencinya bergembira pada hari raya orang musyrik dan meniru mereka.”(Fathul Bari: 2/442)

Maka demikianlah perayaan tahun baru adalah perayaan yang diharamkan dalam Syari’at ,namun masih ada saja yang membela diri dengan mengatakan mubahnya bergembira pada hari raya orang kafir dengan alasan adat.

Sebenarnya ucapan seperti ini sudah dibantah oleh sahabat Abdullah bin Amr bin Ash, beliau berkata:

" مَنْ بَنَى فِي بِلَادِ الْأَعَاجِمِ فَصَنَعَ نَوْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهُمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوتَ وَهُوَ كَذَلِكَ حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ " 

“Barangsiapa yang tinggal di negeri ‘Ajam lalu merayakan hari raya Nairuz dan Mahrojan, serta meniru mereka sampai mati, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat.”[Sunan Al-Kubraa oleh al-Baihaqi: 18864]
Apa yang diucapankan oleh sahabat Abdullah bin Amr bin Ash ini merupakan penafsiran hadist Rosulullah berikut:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka”(HR. Abu Dawud:4031, al-Bazzar:2966, dishohihkan oleh syaikh al-Albani)

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kaum muslimin agar menyadari kesalahan mereka dan mau bertaubat sehingga tidak merayakan  hari raya orang kafir yang selalu berulang tiap tahun.

Oleh Abu Hasan as-Syihaby
Malam diselimuti rintik hujan di kawasan pantura kabupaten Lamongan Jatim, Sabtu, 3 Robi’uts Tsani 1438 H/ 31 Desember 2016 M



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.