ANTARA MENANGISI ORANG BODOH DAN ORANG MATI - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Selasa, 02 Februari 2016

ANTARA MENANGISI ORANG BODOH DAN ORANG MATI

Imam Hasan al-Basri rohimahullah berkata:

نَبْكِي عَلَى الْمَيِّتِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، وَعَلَى الْأَحْمَقِ حَتَّى يَمُوتَ.

"Kami menangisi orang mati selama tiga hari, sedangkan orang bodoh itu sampai dia mati.”(Siyar as-Salaf  as-Sholihin. Hal. 731, Daar ar-Royah li An-Nashr wa at-Tauzi’, Riyadh, via Maktabah Syamelah)

FAEDAH

1.KEBODOHAN ADALAH MUSIBAH BESAR

Kematian adalah musibah besar bagi kebanyakan orang. Ia membuat sedih dan menangis. Terutama bagi orang yang ditinggal mati oleh  orang- orang terdekatnya.

Namun ada musibah yang lebih besar yang seharusnya ditangisi oleh banyaka orang, namun kebanyakan manusia menganggapnya biasa. Musibah itu adalah kebodohan. Itulah sebabnya Imam Hasan al-Bashri rohimahullah mengatakan bahwa menangisi orang yang bodoh itu lebih lama batasan waktunya daripada menangisi orang yang mati. Menangisi orang bodoh itu tidak dibatasi waktu oleh syari’at sedangkan menangisi orang mati itu terdapat hadist yang melarangnya melebihi tiga hari.

Hakekat kebodohan adalah kematian. Orang yang bodoh tentang syari’at Islam baik aqidah, hukum ataupun adab pada hakekatnya adalah seperti orang yang telah mati. Ia tidak bisa memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain. Bahkan dia dapat menimbulkan madhorot bagi orang lain seperti terjadinya kemaksiatan, bid’ah, kemusyrikan bahkan kekufuran. Semua ini  adalah akibat bodoh dari syari’at, dan tidak mau tahu tentang syari’at.

Orang yang telah meninggal tidak bisa bicara, mendengar dan memahami perkataan orang yang masih hidup sehingga tidak banyak memberikan manfaat. Inilah hakekat orang yang bodoh yang tidak bisa memahami dan menerima syari’at yang diajarkan kepadanya.

Orang yang paling bodoh adalah orang-orang kafir yang tidak mau mendengar dan memenuhi seruan Allah dan Rosul-Nya. Maka dari itu Allah mengumpamakan mereka dengan orang mati. Allah berfirman:

إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ وَالْمَوْتَى يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ (36)

Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nyalah mereka dikembalikan. (QS.al-an’am (6):36)

Dalam mengomentari ayat ini, Imam Ibnu Jarir At-Tobari rohimahullah berkata:

والكفارُ يبعثهم الله مع الموتى، فجعلهم تعالى ذكره في عداد الموتى الذين لا يسمعون صوتًا، ولا يعقلون دعاء، ولا يفقهون قولا إذ كانوا لا يتدبرون حُجج الله، ولا يعتبرون آياته، ولا يتذكرون فينزجرون عما هم عليه من تكذيب رُسل الله وخلافهم.

“Dan orang-orang kafir dibangkitkan oleh Allah bersama orang-orang mati, maka Allah Ta’ala menyebutnya setara dengan orang mati yang tidak mendengar suara, tidak memahami seruan dan tidak mengerti ucapan karena tidak merenungi hujjah-hujjah Allah, tidak mengambil ibroh ayat-ayat-Nya, tidak pula mau mengingat-ingat serta tidak mau berhenti mendustakan utusan-utusan Allah dan menyelisihinya.”(Jami’ul Bayan Fi Ta’wil al-Qur’an: 11/341,Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, Muassatur Risalah, Cet. Pertama, 1420 H/2000 M,via Maktabah Syamelah)

Imam Ibnu Katsir rohimahullah berkata:

وَقَوْلُهُ وَالْمَوْتى يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ يَعْنِي بِذَلِكَ الْكَفَّارَ، لِأَنَّهُمْ مَوْتَى الْقُلُوبِ، فَشَبَّهَهُمُ اللَّهُ بِأَمْوَاتِ الْأَجْسَادِ

“Dan firman-Nya’dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nyalah mereka dikembalikan’ yakni orang-orang kafir karena mereka mati hatinya maka Allah menyerupakan mereka dengan orang yang mati jasadnya”(Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim:3/226, Tahqiq Muhammad Husain Syamsuddin, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, cet. Pertama, 1419 H,via Maktabah Syamelah)

2.MENANGISI MAYIT DALAM MASA TIGA HARI SETELAH KEMATIAN


Imam Hasan al-Bashri rohimahullah mengatakan bahwa menangisi orang mati itu batasannya adalah tiga hari , hal ini berdasarkan hadist berikut:


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْهَلَ آلَ جَعْفَرٍ ثَلَاثًا أَنْ يَأْتِيَهُمْ، ثُمَّ أَتَاهُمْ، فَقَالَ: «لَا تَبْكُوا عَلَى أَخِي بَعْدَ الْيَوْمِ»، ثُمَّ قَالَ: «ادْعُوا لِي بَنِي أَخِي»، فَجِيءَ بِنَا كَأَنَّا أَفْرُخٌ، فَقَالَ: «ادْعُوا لِي الْحَلَّاقَ»، فَأَمَرَهُ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا

Dari Abdullah bin Ja’far, “bahwasanya Rosulullah ﷺ mengulur waktu selama tiga hari untuk mendatangi keluarga Ja’far, kemudian beliau mendatanginya, lalu berkata,’janganlah kalian menangisi saudaraku setelah hari ini.’ lalu beliau berkata,’panggilkan aku anak-anak saudaraku!’ maka kamipun didatangkan seolah-olah kami seperti anak burung.’ Lalu beliau berkata lagi,’panggilkan aku tukang cukur!’ maka beliaupun memerintahkan tukang cukur mencukur rambut kami.”(HR Abu Dawud: 4192, dishohihkan oleh syaikh al-Albani)

Syaikh al-Albani Rohimahullah berkata:

ويجوز لهم كشف وجه الميت وتقبيله، والبكاء عليه ثلاثة أيام

“Dan boleh bagi mereka membuka wajah mayit dan menciumnya serta menangisinya selama masa tiga hari”(Ahkamul Janaiz hal.20, al-Maktab al-Islami,cet. Keempat, 1406 H/1986 M, via Maktabah Syamelah)

Syaikh Abdul Muhsin Bin Hammad al-Abbad hafidzohullah berkata:

أن الرسول صلى الله عليه وسلم لما استشهد جعفر بن أبي طالب في غزوة مؤتة أمهلهم ثلاثة أيام، يعني: لم يأتهم وجعل لهم أن يبكوا في هذه الأيام؛ لأن البكاء سائغ ودمع العين سائغ وإنما المحذور هو النياحة وإطلاق الأصوات بالنياحة على الميت، وبعد ذلك جاءهم وقال: (لا تبكوا على أخي بعد اليوم) يعني: بعدما مضى ثلاثة أيام ليس لهم أن يبكوا؛ لأن الصدمة الأولى وزمن الحزن لا يطول ولا يستمر.

“Bahwasanya Rosulullah ﷺ tatkala Ja’far bin Abi Tholib syahid dalam perang mu’tah, beliau menangguhkan mereka selama tiga hari, yaitu beliau tidak mendatanginya dan membiarkan mereka menangis dalam masa tiga hari ini, karena menangis itu boleh dan meneteskan air mata itu boleh sedangkan yang terlarang adalah an-niyahah ( meratapi) dan mengeluarkan suara-suara yang meratapi si mayit, setelah itu beliau mendatangi mereka dan berkata,’Janganlah menangisi saudaraku setelah hari ini!’ yaitu setelah berlalu tiga hari tidak layak bagi mereka menangis karena awal goncangan dan waktu kesedihan tidaklah lama dan tidak pula terus- menerus.”(Syarh Sunan Abi Dawud:470/26, Transkrip as-Sabakah al-Islamiyyah, via Maktabah Syamelah)

Namun larangan dalam hadist tersebut menurut Ibnu ‘Alan as-Syafi’i rohimahullah adalah larang yang bersifat tanzih yaitu larangan untuk membersihkan diri dari perbuatan tersebut dan bukan tahrim yang sifatnya mengharamkan , beliau berkata:

النهي في للتنزيه، لإِباحة البكاء الخالي عن المحرم على الميت بعد الثلاث، وإن كان الأولى تركه

“Larangan menurutku adalah larangan tanzih, karena bolehnya menangisi mayit yang tidak disertai hal-hal yang haram setelah tiga hari, walaupun yang lebih utama adalah meninggalkannya.”(Dalilul Falihin:8/477, Darul Ma’rifah, Beirut, Libanon,cet. Keempat, 1425 H/ 2004 M,via Maktabah Syamelah)

Menangisi mayit tanpa ratapan dan perbuatan yang diharamkan adalah rukshoh (keringanan)  berdasarkan Riwayat:

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ الْبَجَلِيِّ، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى أَبِي مَسْعُودٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَثَابِتِ بْنِ زَيْدٍ، وَجَوَارٍ يَضْرِبْنَ بِدُفٍّ لَهُنَّ وَتُغَنِّينَ، فَقُلْتُ: أَتُقِرُّونَ بِذَا وَأَنْتُمْ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: «إِنَّهُ قَدْ رُخِّصَ لَنَا فِي الْعُرْسِ، وَالْبُكَاءِ عَلَى الْمَيِّتِ فِي غَيْرِ نَوْحٍ»

Dari Amir bin Said al-Bajali, dia berkata:” Aku menemui Abu Mas’ud , Ubai bin Ka’ab dan Tsabit bin Zaid sedangkan  anak-anak wanita memukul duff dan bernyanyi maka aku berkata:”Apakah kalian membenarkan hal ini sedangkan kalian adalah sahabat-sahabat rosulullah ﷺ, maka dia berkata:’Sesungguhnya hal ini (Nyanyian anak-anak wanita yang disertai tabuhan duff (rebana tanpa suara gemerincing)-pent) diizinkan bagi kami pada walimah pernikahan dan diizinkan menangisi mayit tanpa disertai ratapan.’”(HR. At-Tobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir:690)

Wallahu a’lam bis showab.


Oleh Abu Hasan as-Syihaby

Menjelang Ashar di sudut barat laut kabupaten Lamongan Jatim, Senin,21 Dzulhijjah 1436 H/ 5 Oktober 2015 M





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.