CERITA TEMANKU DAN IFFAH SALAF - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Sabtu, 06 Februari 2016

CERITA TEMANKU DAN IFFAH SALAF

Beberapa waktu yang lalu, aku memerlukan tanda tangan seorang  teman. Akupun mendatangi tempatnya bertugas. Aku sodorkan surat yang harus dia tanda tangani. Dia mencari-cari pulpen di kantungnya, namun tidak menemukan. Kebetulan di atas meja di hadapannya ada sebuah pulpen. Diambilnya pulpen itu, namun ketika mau membubuhkan tanda tangan, dia ragu dan membatalkannya. Aku heran,”Kenapa?” kataku.  Jawabannya sungguh tidak saya perkirakan sebelumnya karena saya anggap dia biasa saja dalam urusan agama,”Ini mencuri, ini bukan milikku, pinjam pulpenmu saja.”katanya dengan enteng.

Subhanallah, sebuah jawaban yang menembus gendang telingaku, menerobos ke dalam pusat fikiranku, menembus jauh ke dalam relung batinku. Maa sya Allah, aku kaget, selama ini aku menganggab hal-hal remeh seperti itu dan tidak pernah menganggap serius urusannya. Aku sering memakai pulpen yang bukan milikku, aku tidak minta izin pemiliknya karena aku berfikir hanya menulis sedikit.

Jawaban temanku itu memberi peringatan kepadaku bahwa selama ini aku mencuri. Ya Allah ampunilah aku.

Kejadian itu juga mengingatkanku tentang kisah Ibnu Abi ashim. Abul Qosim Ismail bin Muhammad al-Asbahani rohimahullah pernah menukil cerita dari Ibnu Abi Ashim. Ibnu Abi Ashim rohimahullah berkata:

لَمَّا كَانَ مِنْ أَمْرِ الْعَلَوِيِّ بِالْبَصْرَةِ مَا كَانَ، ذَهَبَتْ كُتُبِي فَلَمْ يَبْقَ مِنْهَا شَيْءٌ، فَأَعَدْتُ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِي فِي خَمْسِينَ أَلْفَ حَدِيثٍ، كُنْتُ أَمُرُّ إِلَى دُكَّانِ بَقَّالٍ، فَكُنْتُ أَكْتُبُ بِضَوْءِ سِرَاجِهِ فَتَفَكَّرْتُ بَعْدَ ذَلِكَ فِي نَفْسِي أَنْ لَمْ أَسْتَأْذِنْ صَاحِبَ السِّرَاجِ فَذَهَبْتُ إِلَى الْبَحْرِ فَغَسَلْتُهُ ثُمَّ أَعَدْتُهُ ثَانِيًا.

“Ketika masa pemerintahan Al-Alawi di Bashroh kitab-kitabku hilang hingga tidak tersisa sedikitpun, lalu akupun mengulangi lima puluh ribu hadist dengan hafalan. Saat itu aku lewat di sebuah toko milik tukang sayur. Akupun menulis dengan bantuan sinar lampunya, namun setelah itu aku berfikir bahwa aku belum minta izin pemilik lampu ini maka akupun pergi ke laut dan mencucinya lalu aku mengulanginya lagi"(Siyarus Salafis Sholihin oleh al-Asbahani hal. 1302, Darur Royah li an-Nashr wa at-Tauzi’, Riyadh, Via Maktabah Syamelah)

Apa yang dilakukan temanku memang tidak sebannding dengan yang dilakukan oleh Ibnu Abi ashim, Ibroh dalam peristiwa tersebut begitu berharga.


IBROH

1. Tidak bolehnya meremehkan atau menghina orang lain karena bisa jadi mereka memiliki kelebihan yang tidak kita ketahui. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. (QS. al-Hujurot: 11)

2. Tidak boleh meremehkan sebuah dosa. Rosulullah bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ

Jauhilah olehmu meremehkan dosa, sesungguhnya perumpamaan orang yang meremehkan dosa adalah seperti suatu kaum yang singgah di tengah lembah, lalu salah seorang membawa ranting kayu dan yang lain membawa ranting kayu pula hingga mereka mematangkan roti mereka. Dan sesungguhnya meremehkan dosa itu menhancurkan ketika pelakunya  disiksa.” (HR. Ahmad: 22808, dinilai shohih oleh syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahaadist as-Shohihah no. 3102)

3. Anjuran  untuk iffah (menjaga kesucian diri dari dosa)

4. Anjuran mengambil ibroh (pelajaran berharga) dari setiap peristiwa. Allah berfirman:

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

"Maka ambillah ibroh (pelajaran) wahai orang yang mempunyai Bashiroh"(QS. al-Hasyr: 2)

Dalam mengomentari ayat ini Ibn katsir rohimahullah berkata:

أَيْ تَفَكَّرُوا فِي عَاقِبَةِ مَنْ خَالَفَ أَمْرَ اللَّهِ وَخَالَفَ رَسُولَهُ وَكَذَّبَ كِتَابَهُ كَيْفَ يَحِلُّ بِهِ مِنْ بَأْسِهِ الْمُخْزِي لَهُ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْعَذَابِ الْأَلِيمِ.

“Yaitu berfikirlah kalian tentang akibat orang yang menyelisihi perintah Allah dan rosul-Nya dan mendustakan kitab-Nya (al-Qur’an), bagaimana dia tertimpa siksa yang menghinakan di dunia  menanggungnya di akhirat".”(Tafsir al Qur’anul Adzim: 8/87, Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cet. Pertama,1419 H, via Maktabah Syamelah)

Syaikh Abdur rohman bin Sa’di rohimahullah berkata:

والعبرة بعموم اللفظ  لا بخصوص السبب، فإن هذه الآية تدل على الأمر بالاعتبار، وهو اعتبار النظير بنظيره، وقياس الشيء على مثله، والتفكر فيما تضمنته الأحكام من المعاني والحكم التي هي محل العقل والفكرة، وبذلك يزداد  العقل، وتتنور البصيرة ويزداد الإيمان، ويحصل الفهم الحقيقي

"Dan mengambil Ibroh (pelajaran) itu sesuai keumuman lafadz bukan kekhususan sebab, maka ayat ini menunjukkan perintah mengambil ibroh (pelajaran), yaitu mengambil ibroh yang sepadan dengan yang sepadan, dan mengkiyaskan sesuatu dengan semisalnya. Serta perintah untuk memikirkan yang terkandung dalam hukum-hukum baik berupa makna-makna maupun hikmah-hikmah yang tempatnya adalah akal dan pemikiran, dengan sebab itu semua maka bertambahlah akal, bersinarlah pengetahuan, bertambahlah keimanan dan tercapailah pemahaman yang sejati.”(Taisir Karimir Rohman hal.848, Muassatur Risalah, cet. Pertama,142 H/2000 M, via Maktabah Syamelah)

oleh Abu Hasan as-Syihaby.

Menjelang terbitnya matahari di belahan utara Kabupaten Lamongan, Ahad, 24 Syawwal 1436 H/9 Agustus 2015 M


1 komentar:

  1. https://www.facebook.com/khalidbasalamahbyagisugionoabdullah/posts/1547441728886448

    BalasHapus

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.