PERTEMUAN YAZID BIN HARUN DAN AHMAD BIN AL-FUROT - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Selasa, 02 Februari 2016

PERTEMUAN YAZID BIN HARUN DAN AHMAD BIN AL-FUROT

Yazid bin Harun (118 H-206 H) adalah seorang ulama’ besar ahli hadist pada masa pemerintahan kholifah al-Makmun dinasti Bani Abbasiyah dan merupakan salah satu guru Imam Ahmad bin Hanbal. Sedangkan Ahmad bin al-Furot Abu Mas’ud ar-Rozi (w. 258) adalah salah satu imam besar ahli hadist, murid Imam Ahmad bin Hanbal, guru Imam Abu Dawud as-Sijistani penyusun kitab as-Sunan dan Ibnu Abi Ashim penyusun kitab as-Sunnah.


Isma’il bin Muhammad al-Ashbahani رحمه الله atau yang terkenal dengan sebutan Qowwamus Sunnah bercerita tentang pertemuan keduanya:


قَالَ أَبُو مَسْعُودٍ: كُنْتُ فِي مَجْلِسِ يَزِيدَ بْنِ هَارُونَ وَأَنَا عَلَى شَطِّ نَهْرٍ أَلْعَبُ بِالْمَاءِ، وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ يُحَدِّثُ النَّاسَ، فَلَمَّا فَرَغَ مَرَّ بِي رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا هَذَا لَوْ كَتَبْتَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ كَانَ أَصْلَحَ مِنْ أَنْ تَلْعَبَ بِالْمَاءِ، قَالَ: فَقُلْتُ: مَكَانَكَ، وَأَمْرَرْتُ عَلَيْهِ الْمَجْلِسَ مِنْ غَيْرِ أَنْ أَكُونَ كَتَبْتُهُ، فَمَرَّ مُتَعَجِّبًا حَتَّى صَارَ عِنْدَ يَزِيدَ بْنِ هَارُونَ، فَقَالَ لَهُ: يَا أَبَا خَالِدٍ: إِنَّ هَا هُنَا شَابًّا كَانَ مِنْ قِصَّتِهِ وَأَمْرِهِ كَذَا وَكَذَا، فَقَالَ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ: ادْعُهُ لِي، فَجَاءَنِي الرَّجُلُ، قَالَ: إِنَّ أَبَا خَالِدٍ يَدْعُوكَ، قَالَ: فَصِرْتُ إِلَيْهِ وَإِذَا هُوَ جَالِسٌ مَعَ نَفَرٍ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَقَالَ لِي: مِنْ أَيْنَ أَنْتَ؟ قُلْتُ: رَجُلٌ غَرِيبٌ، قَالَ: مِنْ أَيْنَ أَتَيْتَ؟ قُلْتُ: مِنَ الرَّيِّ، قَالَ: لَقِيتَ أَبَا مَسْعُودٍ الرَّازِيَّ؟ قَالَ: قُلْتُ: أَنَا أَبُو مَسْعُودٍ الرَّازِيُّ.


قَالَ: اقْرِبْ مِنِّي، فَمَا أَحَدٌ أَحَقُّ بِهَذَا الْمَجْلِسِ مِنْكَ، فَجَلَسْتُ مَعَهُ، فَجَعَلَ يُحَدِّثْنِي وَأُحَدِّثُهُ، ثُمَّ قَامَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَانْطَلَقْنَا إِلَى مَنْزِلِهِ فَدَخَلَ فَخَرَجَ إِلَيَّ وَمَعَهُ صُرَّةٌ فِيهَا أَرْبَعُ مِائَةِ دِرْهَمٍ، فَقَالَ: اجْعَلْ هَذِهِ نَفَقَةً.


قَالَ: فَخَرَجْتُ إِلَى عَبْدِ الرَّزَّاقِ.



“Abu Mas’ud berkata,’Aku pernah menghadiri majlis Yazid bin Harun  di tepi sungai sambil bermain air, sedangkan Yazid bin Harun mengabarkan hadist kepada orang-orang. Setelah selesai maka lewatlah seseorang didekatku lalu dia berkata,’ wahai fulan, sekiranya engkau menulis hadist-hadist ini, itu lebih baik daripada engkau bermain air.’ Maka aku menjawab,’Itu adalah keadaanmu, sedangkan aku telah melewati majlis ini tanpa menulisnya.’ Maka diapun berlalu sambil merasa kagum sampai dia berada di sisi Yazid bin Harun kembali, dia berkata kepadanya,’ wahai Abu Kholid, di sini ada seorang pemuda yang cerita dan keadaannya begini dan begini.’ Maka Yazid bin Harun berkata,’Panggil dia kepadaku!’ Lalu orang itupun mendatangiku dan berkata,’Sesungguhnya Abu Kholid memanggilmu.’ Lalu akupun mendatanginya sedangkan dia sedang bermajlis dengan sekelompok orang, kemudian akupun mengucapkan salam kepadanya. Maka dia berkata kepadaku,’dari mana engkau?’ Aku menjawab,’Aku adalah orang asing.’ Dia bertanya lagi,’Dari mana engkau datang ?’ Aku menjawab,’ Dari kota Ray.’ Dia bertanya lagi,’Apakah kamu berjumpa dengan Abu Mas’ud ar-Rozi.’Aku menjawab,’Aku adalah Abu Mas’ud ar-Rozi.’ Dia berkata,’Mendekatlah kepadaku, maka tiada seorangpun yang lebih berhak dengan majlis ini selain engkau,’ Maka akupun bermajlis bersamanya, lalu dia mulai mengabarkan hadist kepadaku dan akupun mengabarkan hadist kepadanya. Lalu dia berdiri dan memegang tanganku kemudian kamipun pergi ke rumahnya, lalu dia masuk dan keluar dengan membawa bungkusan yang berisi uang 400 dirham. Lalu dia berkata,’Ambillah ini sebagai nafkah.’ Maka akupun keluar menuju Abdur Rozaq (Abdur Rozaq as-Shon’ani penyusun kitab Mushonnaf-Pent).’”(Siyarus Salafis Sholihin oleh Isma’il al-Asbahani hal. 1301, Darur Royah, Riyadh, Via Maktabah Syamelah)


PELAJARAN DARI PERISTIWA


1. Kuatnya hafalan para ahli hadist.

Ketika Ahmad bin al-Furot رحمه الله dalam majlis Yazid bin Harun رحمه الله ditegur karena tidak menulis, maka beliau mengatakan bahwa dia telah melewati majlis tersebut tanpa menulis namun dia hafal apa yang disampaikan di majlis. Hal ini menunjukkan kuatnya hafalan para ahli hadist.


Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata tentang Ahmad bin al-Furot:


ما تحت أديم السماء أحفظ لأخبار رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم من أَبِي مسعود.


“Tidaklah aku mendapati di kolong langit ini orang yang lebih hafal hadist-hadist Rosulullah ﷺ daripada Abu Mas’ud”(Tahdzibul Kamal: 1/423)
Oleh sebab itu hadist-hadist dengan jalur sanad yang shohih dan telah melalui verifikasi para ulama’ ahli hadist bahkan telah menjadi kesepakatan ahli hadist keshohihannya maka hadist-hadist tersebut adalah betul-betul berasal dari Rosulullah ﷺ (Qot’iyyuts tsubut). Sehingga tiada keraguan bagi kaum muslimin untuk menjadikannya dalil atau landasan dalam beragama (Qot’iyyud Dilalah) dengan pemahaman para salafus Sholeh.


2. Anjuran menulis ilmu.


            Hal ini diambil dari ucapan seseorang kepada Ahmad bin al-Furot tentang kelebihan menulis daripada bermain air. Terutama bagi orang yang kekeatan hafalannya tidak kuat.

Rosulullah ﷺ juga memerintahkan menulis ilmu. Beliau berkata:


قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَ


“Ikatlah ilmu dengan tulisan!”(HR. Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa fadlihi no. 395, Syaikh al-Albani mengatakan shohih lighoiri dalam silsilah ahadist as-Shohihah no.2026)


Bahkan menulis ilmu itu mempunyai kelebihan daripada tidak menulis, seperti ucapan Abu Huroiroh  رضي الله عنه berikut:


مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي، إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ


“Tidak ada seorangpun dari sahabat-sahabat rosulullah ﷺ  yang lebih banyak hadistnya daripadaku kecuali Abdullah bin ‘Amar, karena dia menulis sedangkan aku tidak menulis.”(HR. Bukhori :113)


3. Semangat salaf dalam menuntut ilmu.


Abu Mas’ud ar-Rozy yang berasal dari kota Ray (sebuah kota kuno yang menjadi bagian provinsi Teheran, Iran) melakukan perjalanan jauh untuk menemui Yazid bin harun yang berada kota Bagdad di Iraq untuk menuntut Ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka rela untuk melakukan perjalanan jauh dalam menuntut ilmu.


4. Rizqi bagi penuntut ilmu


Ketika Abu Mas’ud ar-Rozy bertemu dengan Yazid bin Harun, dia mendapatkan pemberian uang sebesar 400 dirham dari Yazid bin Harun sebagai biaya nafkahnya dalam perjalanannya menuntut ilmu. Hal ini menunjukkan Allah ﷻ akan selalu memberikan rizqi bagi penuntut ilmu.


Menuntut ilmu adalah jembatan menuju ketakwaan, karena dengan ilmu orang akan mengetahui yang diperintahkan oleh Allah ﷻ dan yang dilarang. Oleh sebab itu Allah ﷻ akan memudah para penuntut ilmu dengan memberikan rizqi kepadanya. Allah ﷻ berfirman:


وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah maka Allah akan mennjadikan baginya jalan keluar. Dan akan memberinya rizqi darimana saja yang  dia tidak sangka.”(QS. at-Tholaq :2-3)


Begitu pula hadist berikut menunjukkan bahwa penuntut ilmu itu akan selalu diberi rizqi oleh Allah ﷻ.


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا المُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ»


Dari Anas bin Malik, beliau berkata,”Ada dua orang bersaudara pada zaman Rosulullah ﷺ, yang satu mendatangi Nabi ﷺ (Untuk menuntut ilmu) sedangkan yang lain bekerja, maka yang bekerja mengadukan saudaranya kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda,’Semoga engkau diberi rizqi karenanya.’”(HR. Tirmidzi: 2345, dishohihkan oleh syaikh al-Albani dalam sunan at-Tirmidzi dan al-as-Shohihah no. 2769)


5. Semangat para salaf dalam membantu orang yang menuntut ilmu dengan ilmu dan hartanya.


Hal ini terlihat dari perbuatan Yazid bin Harun yang memberikan uang 400 dirham kepada Ahmad bin al-Furot ar-Rozy yang  sedang  melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu. Dan menuntut ilmu adalah sebuah perbuatan baik, Allah  ﷻberfirman:


وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى


“Dan tolong menolonglah untuk berbuat kebaikan dan ketakwaan.”(QS.al-Maidah:2)


6. Tidak menolak pemberian orang lain asal tidak meminta.

Ketika Abu Mas’ud ar-Rozy diberi uang dirham oleh Yazid bin Harun, beliau tidak menolaknya. Perbuatan seperti inilah yang dianjurkan oleh syari’at asalkan dia tidak memintanya, karena meminta-minta adalah perbuatan yang dilarang.


Rosulullah ﷺ berkata kepada Umar bin Khottob رضي الله عنه:


«إِذَا أُعْطِيتَ شَيْئًا مِنْ غَيْرِ أَنْ تَسْأَلَهُ، فَكُلْ وَتَصَدَّقْ»


“Jika engkau diberi sesuatu tanpa memintanya maka makanlah dan bersedekahlah.”(HR. Abu Dawud: 1647, dinilai shohih oleh Syaikh al-Albani).


Wallahu A’lam bis Showab.


Oleh Abu Hasan as-Syihaby


Ba’da Ashar di sudut barat laut kabupaten Lamongan, Jatim, Indonesia, Rabu,13 Shofar 1437 H/ 25 Nopember 2015 M



Bila ada kesalahan, mohon masukan yang positif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.