TEGAKKANLAH SYARI’AT DALAM DIRIMU! - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Jumat, 12 Februari 2016

TEGAKKANLAH SYARI’AT DALAM DIRIMU!

Aku membaca sebuah tulisan di akun facebook seseorang yang sangat bersemangat dalam menegakkan syari’at Islam. Saking semangatnya, sampai-sampai dia mengkafirkan orang-orang yang tidak sependapat dengannya dalam masalah daulah bayangan yang dia banggakan (Daesh). Lalu dia mengkafirkan semua orang muslim dengan alasan tidak membai’at negara bayangannya.Dia pula mengkafirkan orang  yang hidup di dalam negara yang menganut sistem sekulerisme ala barat tanpa perincian dengan dalil-dalil al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus Sholih dan Ulama’ ulama’ kibar yang mengikuti mereka. 

Namun ketika aku membaca komentar-komentar orang ini, aku mendapatkan kontradiksi antara yang dia gembar-gemborkan untuk menegakkan syari’at islam dengan ucapannya, karena komentarnya berisi cacian-cacian kotor,  laknat dan hinaan terhadap lawan diskusinya. Padahal Rosulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ المُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيءِ

“Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berbuat keji dan bukan pula orang yang suka berkata kotor (kasar)”(HR. at-Tirmidzi: 1977, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam sunan at- Tirmidzi)

Begitu pula beliau ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِه

“Orang muslim itu adalah orang yang memberi keamanan kepada muslim lainnya dari perkataan dan perbuatan tangannya.”(HR Bukhori: 6484, Muslim: 41)

Oleh sebab itu apa yang dia perjuangkan tidak berbanding lurus dengan amal perbuatannya. Dia menginginkan diterapkannya syari’at Islam dalam masyarakat namun dalam dirinya sendiri, syari’at tidak diterapkan, malah perbuatannya bertentangan dengan syari’at.

Mungkin dia berdalih bahwa orang yang diajak diskusi adalah orang kafir yang harus dilaknat, dicaci maki dan disumpahserapahi dengan ucapan kotor dan kasar menurut manhaj yang dia anut, manhaj khowarij dan takfir serampangan. Padahal belum tentu anggapan takfirnya itu benar, bahkan lebih banyak salahnya karena takfir yang dipakai standar tidaklah sesuai dengan al-Qur’an dan hadist melalui pandangan para ulama salafus sholih yang mu’tabar. Sehingga kalau tuduhan takfirnya salah dan orang yang diajak diskusi itu masih dihukumi muslim dalam pandangan Allah ﷻ, maka tuduhan nya itu akan menjadi bumerang baginya, Rosulullah ﷺ bersabda:

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Siapapun orang yang mengatakan kepada saudaranya, ‘wahai kafir’ maka salah satu keduanya menanggung dosa ucapan itu jika yang dia katakan benar, tetapi jika tidak, maka ucapan itu kembali kepadanya sendiri.”(HR. Muslim: 60)

Ibnu Abdil Bar rohimahullah berkata:

وَإِذَا قِيلَ لِلْمُؤْمِنِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ قَائِلُ ذَلِكَ بِوِزْرِ الْكَلِمَةِ وَاحْتَمَلَ إِثْمًا مُبِينًا وَبُهْتَانًا عَظِيمًا إِلَّا أَنَّهُ لَا يَكْفُرُ بِذَلِكَ لِأَنَّ الْكُفْرَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِتَرْكٍ مَا يَكُونُ بِهِ الْإِيمَانُ

“Dan jika dikatakan kepada orang mukmin’wahai kafir’ maka orang yang mengatakan akan menanggung dosa perkataan itu dan membawa dosa yang nyata dan kedustaan yang besar namun dia tidak menjadi kufur sebab itu, karena kekufuran itu tidak terjadi kecuali dengan meninggalkan pokok-pokok keimanan.” (Al-Istidzkar:8/549, tahqiq Salim Muhammad Atho dan Muhammad Ali Muawwidh, Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cet. Pertama, 1421 H/ 2000M, via Maktabah Syamelah)

Kemudian, anggaplah bahwa orang yang diajak diskusi itu memang kafir dalam pandangan syari’at, namun haruskah melontarkan laknat, cacian dan ucapan kotor kepadanya yang akan membuat orang kafir lari dari dakwah. Memang para Ulama’ berbeda pendapat dalam permasalahan ini, ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Namun demikian, Allah melarang mencaci maki sesembahan orang kafir karena mereka akan membalas mencaci maki Allah. Allah berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. al-An’am :108)

Begitu pula Rosulullah ﷺ melarang Aisyah mencaci-maki orang yahudi.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ اليَهُودَ أَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ، قَالَ: «وَعَلَيْكُمْ» فَقَالَتْ عَائِشَةُ: السَّامُ عَلَيْكُمْ، وَلَعَنَكُمُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْكُمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَهْلًا يَا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ، وَإِيَّاكِ وَالعُنْفَ، أَوِ الفُحْشَ» قَالَتْ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ: «أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ، رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ، فَيُسْتَجَابُ لِي فِيهِمْ، وَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِيّ»

Dari Aisyah rodhiyallahu anha,”Bahwasanya orang yahudi mendatangi Nabi ﷺ, lalu mereka berkata,’semoga engkau celaka.’ Maka beliau menjawab,’Begitupula bagi kalian.’ Lalu Aisyahpun berkata,’Semoga kalian celaka, semoga Allah melaknat kalian dan memarahi kalian.’ Maka Rosulullah ﷺ berkatta,’Pelan-pelan wahai Aisyah, jauhilah perbuatan kasar atau ucapan keji!’ maka Aisyah berkata,’ bukankah engkau telah mendengar apa yang mereka katakan?’ belaiu menjawab,’Bukankah engkau telah mendngar yang aku katakan ketika menjawab mereka, maka doaku dikabulkan sedang do’a mereka tidak dikabulkan.’”(HR. Bukhori: 6401)

Sedangkan dalam riwayat Imam Muslim, redaksinya sebagai berikut:

فَفَطِنَتْ بِهِمْ عَائِشَةُ فَسَبَّتْهُمْ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَهْ يَا عَائِشَةُ ، فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ
.
“Maka Aisyah menyadari ucapan mereka lalu memaki mereka, maka Rosulullah ﷺ berkata,’jangan begitu wahai Aisyah, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai ucapan keji dan kotor.”(HR. Muslim 2165)

Imam as-Shon’ani dalam mengomentari sabda rosulullah (سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ)’Mencaci orang muslim itu kefasikan’, beliau berkata:

" مَفْهُومِ قَوْلِهِ : (الْمُسْلِمِ) دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ سَبِّ الْكَافِرِ , فَإِنْ كَانَ مُعَاهَدًا فَهُوَ أَذِيَّةٌ لَهُ , وَقَدْ نَهَى عَنْ أَذِيَّتِهِ فَلا يُعْمَلُ بِالْمَفْهُومِ فِي حَقِّهِ , وَإِنْ كَانَ حَرْبِيًّا جَازَ سَبُّهُ إذْ لا حُرْمَةَ لَهُ

“Mafhum ucapan beliau’al-muslim’ adalah dalil bolehnya mencaci orang kafir, tapi jika dia kafir mu’ahad maka hal itu adalah penganiayaan baginya, sedangkan beliau melarang menyakitinya maka tidak diterapkan dalammasalah  haknya dengan menggunakan dalil mafhum, dan jika dia kafir harbi maka boleh mencacinya karena dia tidak memiliki kehormatan.”(Subulus Salam: 2/663,Darul Hadist, via Maktabah Syamelah)

Syaikh al-Albani rohimahullah ditanya tentang hukum menggunjing dan mencaci maki orang kafir dan musyrik, maka beliau menjawab:

يجوز كل ذلك ، لأن الكافر لا حرمة له ، إلا إذا كان يترتب من ذلك مفسدة ، فمثلاً : إذا كان بسبة كافر في وجهه أو بقفاه ، فيبلغه ذلك ، فربما يسب المسلم ويسب دينه ونبيه إلى آخره ، فعند ذلك يحرم سب المسلم للمشرك

“Semua itu boleh karena orang kafir tidak mempunyai kehormatan, namun bila hal tersebut menyebabkan kerusakan, misalnya: jika cacian terhadap orang kafir di depannya atau di belakangnya lalu sampai kepadanya lalu menyebabkan dia mencaci-maki orang muslim tersebut, mencaci agamanya, nabinya, dan seterusnya maka dalam kondisi tersebut haram orang muslim mencaci orang kafir.” (Majmu’ Fatwa al-Allamah al-Albani:8/10, dihimpun dan disusun oleh Abu Sanad Fathullah, al-Jami’ liturotsi as-Syaikh al-Albani edisi ketiga, www.islamspirit.com)

Namun, laknat, celaan dan caciannya terhadap orang muslim lain tidaklah mengherankan, karena memang begitulah karakter manhaj khowarij. Pelopor pertama manhaj ini saja telah merasa lebih daripada Rosulullah ﷺ, manusia terbaik di bumi ini. Bahkan dia telah berani merendahkan beliau ﷺ. Dialah Dzul Huwaisiroh yang menuduh Rosulullah tidak adil dalam pembagian ghonimah.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجِعْرَانَةِ مُنْصَرَفَهُ مِنْ حُنَيْنٍ، وَفِي ثَوْبِ بِلَالٍ فِضَّةٌ، وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبِضُ مِنْهَا، يُعْطِي النَّاسَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، اعْدِلْ، قَالَ: «وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ
»
Dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata,”Seseorang datang kepada Rosulullah ﷺ di Ji’ronah setelah kepulangannya dari Hunain, saat itu di pakaian Bilal terdapat perak, lalu Rosulullah  ﷺ mengambilnya dan membagikannya kepada orang-orang, maka dia berkata,’wahai Muhammad, berlaku adillah!’ maka Beliau  manjawab,’Celaka kamu, siapa lagi yang adil jika aku tidak adil? Sungguh kamu akan celaka dan merugi jika aku tidak adil.’”(HR. Muslim: 1063)

Begitu pula generasi pertama manhaj ini (khowarij) juga telah mengkafirkan generasi terbaik umat ini. Mereka mengkafirkan sahabat Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan sahabat yang bersama mereka rodhiyahhu anhum jami’an, bahkan mereka telah membunuh Utsman dan Ali rodhiyallahu anhuma.

Sedangkan generasi mereka abad ini, Daesh, telah membunuhi para Ulama’ dan mujahidin di Suriah. Maka sekali lagi tidak mengherankan bila mereka merendahkan, mencaci maki dan melaknat orang-orang yang statusnya lebih rendah daripada para sahabat, ulama’ dan para mujahidin. Bahkan mereka tidak segan-segan menumpahkan darah yang tidak berhak untuk ditumpahkan.

Oleh sebab itu, kelompok mereka ini sangat berbahaya bagi umat ini karena mereka adalah seburuk-buruk manusia. Rosulullah ﷺ bersabda:

كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ، خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوهُ

“Mereka adalah anjing-anjing neraka, seburuk-buruk makhluk yang terbunuh di kolong langit, dan sebaik-baik yang terbunuh adalah yang mereka bunuh.”(HR Tirmidzi: 3000, Hadist hasan shohih menurut Syaikh al-albani)

Sebenarnya, sumber dari semua bencana ini adalah kebodohan terhadap syari’at dan keengganan mempelajarinya dari ulama’-ulama’ mu’tabar yang mengikuti para salafus sholeh dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabiut Tabi’in. Dan para ulama’ itu tidak akan bersepakat dalam kesesatan.

Oleh sebab itu, solusi terbaik dalam mempelajari syari’at adalah melalui ulama’-ulama’ tersebut kemudian menerapkan syari’at yang dia pelajari dalam kehidupan pribadinya masing-masing. Maka In Syaa Allah syari’at akan tegak dalam masyarakat. Syaikh  Muhammad Nashiruddin al-Albani rohimahullah berkata:

هناك كلمة لأحد الدعاة - كنت أتمنى من أتباعه أن يلتزموها وأن يحققوها - وهي: (أقيموا دولة الإسلام في قلوبكم تقم لكم على أرضكم)

“Ada sebuah perkataan salah da’i yang aku berharap para pengikutnya berkomitmen dan mewujudkannya, yaitu,’Tegakkanlah daulah Islam di hati kalian maka dia akan tegak di bumi kalian!’”(Fitnatut Takfir hal. 13, Maktabah Syamelah)

oleh Abu Hasan as-Syihaby.
Ba’da Dzuhur di sudut barat laut Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Indonesia, Rabu, 19 Robi’ul Awwal 1437 H/30 Desember 2015 M.

2 komentar:

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.