MASIH PERLUKAH MEMPERTAHANKAN FILSAFAT? - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Senin, 08 Februari 2016

MASIH PERLUKAH MEMPERTAHANKAN FILSAFAT?

Beberapa waktu yang lalu tersiar kabar tentang dosen Filsafat Muh***adi*ah yang menginjak mushaf al-qur’an ketika sedang mengajar mahasiswanya. Pada akhirnya dosen inipun dipecat oleh pimpinan pusatnya.


Seorang temanku juga pernah bercerita,-terlepas dari kebenaran cerita ini karena saya sendiri belum kroscek kebenarannya- dia mengatakan bahwa istrinya mempunyai kerabat, dulu kerabatnya ini pernah belajar di sebuah pondok pesantren Muh***adi*ah di Lamongan jawa Timur. Setelah lulus dari pondok pesantren tersebut, dia melanjutkan ke perguruan tinggi mengambil jurusan filsafat. Ketika lulus, dia murtad dan masuk agama hindu.



Dua contoh di atas sangat tragis alias menyedihkan. Ilmu filsafat ternyata dapat menyebabkan perbuatan kufur, yang satu kufur karena menganggap al-Qur’an adalah makhluk lalu menginjak dan menghina al-Qur’an. Sedangkan yang kedua murtad karena menganggap semua agama sama dan menganggab tuhan ada di mana mana, termasuk ada dalam patung yang disembah oleh orang Hindu dan Budha. Wa iyadzu billah.


Namun aku juga punya cerita lain tentang orang-orang yang mempelajari filsafat.Di Lamongan ada sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang kiyai sarjana filsafat. Pondok Pesantren ini banyak di minati oleh warga sekitar sehingga untuk belajar di sini harus menjalani tes masuk. Pondok pesantren inipun banyak menghasilkan alumni yang berguna bagi masyarakat. Namun demikian ada juga kelemahan dari pondok pesantren ini.  Pesantern ini masih mengajarkan musik dan drumband yang jelas-jelas di haramkan oleh Allah dan rosul-Nya.


Aku juga punya seorang tetangga muda lulusan pesantren tersebut. Dia pendiam dan tidak banyak tingkah. Ketika di rumah dia sangat rajin mengikuti sholat jama’ah lima waktu di masjid dan sering mengikuti pengajian.  Akhir-akhir ini aku jarang melihatnya. Ternyata aku dengar, bahwa dia melanjutkan ke sebuah perguruan tinggi mengambil jurusan filsafat, ya mungkin ingin mengikuti jejak kiyainya yang sarjana filsafat. Namun sampai hari ini aku belum mendengar tentang sesuatu yang aneh alias neko-neko tentang dia.


Dua contoh terakhir ini, kalau menurut aku bukanlah kebaikan yang lahir dari ilmu filsafat. Karena orang yang mengagungkan filsafat ketika ditunjukkan keburukan filsafat kepadanya  akan berdalih bahwa banyak orang yang belajar filsafat tapi mereka masih menjadi orang baik dan berguna bagi masyarakat.


Sebenarnya, kebaikan dari dua orang  ini atau yang lainnya menurut aku adalah bukan bersumber dari filsafat itu sendiri, namun kebaikan itu terlahir dari keimanan dan ilmu-ilmu syari’at yang mereka pelajari dan masih kokoh berakar dalam hati mereka sehingga apapun pemikiran filsafat  tidak membuat mereka goyah dari keyakinan yang benar dan tidak menjadikan mereka tersesat.


Filsafat adalah ilmu warisan orang-orang pagan penyembah berhala dari Yunani. Ilmu ini digunakan untuk mengetahui hakekat segala sesuatu baik materi (fisik) atau non fisik (metafisik) dengan menggunakan akal semata dan menolak wahyu apabila dianggap bertentangan degan akal.


Kalau objek ilmu ini adalah materi yang dapat diindera oleh manusia maka perkaranya tidaklah sulit walaupun kadang hasil dari ilmu ini ada juga yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, seperti pandangan mereka bahwa langit adalah sebuah ruangan hampa udara yang tidak terbatas dan warna biru adalah batas pandang manusia, sedang dalam al-Qur’an dan sunnah Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam mengajarkan bahwa langit itu bertingkat tujuh dan setiap tingkat memiliki pintu-pintu langit, sehingga langit itu terbatas.


Namun, kalau yang menjadi sasaran pembahasan adalah non materi seperti aqidah tentang asma’ wa sifat ataupun alam ghoib (metafisik), lalu semua itu didasarkan akal sematadengan menolak wahyu maka yang terjadi adalah kesalahan fatal dan kesesatan. Oleh sebab itu para ulama’ salaf betul-betul memperingatkan tentang keburukan filsafat ini.


Imam Abu Hanifah rohimahullah berkata:


لَعَنَ اللَّهُ عَمْرَو بْنَ عُبَيْدٍ فَإِنَّهُ فَتَحَ لِلنَّاسِ الطَّرِيقَ إِلَى الْكَلَامِ فِيمَا لَا يعنيهم من الْكَلَام


“Semoga Allah melaknat ‘Amr bin Ubaid, karena dia telah merintis jalan bagi manusia menuju ilmu kalam (filsafat), sedangkan ilmu Kalam tidak bermanfaat bagi mereka”(Dzammul Kalam:5/221,Tahqiq Abdur Rohman Abdul Aziz as-Syibl,Maktabatul Ulum wal Hukum, al-Madinah al-Munawwaroh, cet Pertama,1418 H/1998 M, via Maktabah Syamelah)


Imam Malik Rohimahullah berkata:


مَنْ طَلَبَ الدِّينَ بِالْكَلَامِ تَزَنْدَقَ وَمَنْ طَلَبَ الْمَالَ بِالْكِيِمْيَاءِ أَفْلَسَ وَمَنْ طَلَبَ غَرِيبَ الْحَدِيثِ كَذِبَ


“Barangsiapa yang mencari agama dengan ilmu Kalam (filsafat)dia akan menjadi zindiq (kafir atheis), dan barangsiapa mencari harta dengan ilmu kimia maka dia akan rugi dan barang siapa mencari ucapan-ucapan aneh maka dia telah berdusta” (Dzammul Kalam:5/71,Tahqiq Abdur Rohman Abdul Aziz as-Syibl, Maktabatul Ulum wal Hukum, al-Madinah al-Munawwaroh, cet Pertama,1418 H/1998 M, via Maktabah Syamelah)


Beliau juga berkata:


لَعَنَ اللَّهُ عَمْرًا فَإِنَّهُ ابْتَدَعَ هَذِه الْبدع من الْكَلَام ولوكان الْكَلَامُ عِلْمًا لَتَكَلَّمَ فِيهِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ كَمَا تَكَلَّمُوا فِي الْأَحْكَامِ وَالشَّرَائِعِ وَلَكِنَّهُ بَاطِلَ يَدُلُّ عَلَى بَاطِلٍ)


“Semoga Allah melaknat ‘Amr (bin Ubaid) karena dia telah membuat bid’ah ilmu kalam, sekiranya filsafat itu adalah ilmu,  pasti para sahabat dan tabi’in akan membicarakannya sebagaimana mereka berbicara tentang hukum dan syari’at. Namun filsafat itu batil yang menunjukkan kepada kebatilan.”(Dzammul Kalam:5/73,Tahqiq Abdur Rohman Abdul Aziz as-Syibl, Maktabatul Ulum wal Hukum, al-Madinah al-Munawwaroh, cet Pertama,1418 H/1998 M, via Maktabah Syamelah)


Imam Syafi’I rohimahullah berkata:


رَأْيِي وَمَذْهَبِي فِي أَصْحَابِ الْكَلَامِ أَنْ يُضْرَبُوا بِالْجَرِيدِ، وَيُجْلَسُوا عَلَى الْجِمَالِ، وَيطَافُ بِهِمْ فِي الْعَشَائِرِ وَالْقَبَائِلِ، وَيُنَادَى عَلَيْهِمْ: هَذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ، وَأَخَذَ فِي الْكَلَامِ


“Pendapat dan madzhabku terhadap ahli kalam (filsafat) adalah dipukul dengan pelepah kurma dan didudukkan di atas unta lalu diarak keliling kampung dan desa dan diteriaki inilah balasan bagi orang yang meninggalkan al-Qur’an dan as-sunnah dan mengambil ilmu kalam.”(Hilyatul Auliya’ 9/116, via Maktabah Syamelah)


Beliau juga berkata:

ما شيء أبغض إليّ من الكلام وأهله.


“Tidak ada sesuatupun yang lebih aku benci daripada ilmu kalam dan tokoh-tokohnya”(Tarikh al-Islam li adz-Dahabi:14/178, al-Maktabah at-Taufiqiyyah, via Maktabah Syamelah)


Imam Ahmad bin Hanbal rohimahullah berkata:


لاَ يُفْلِحُ صَاحِبُ كَلاَمٍ أَبَدًا عُلَمَاءُ الْكَلاَمِ زَنَادِقَةُ


“Tidaklah beruntung ahli filsafat selama-lamanya, ahli filsafat adalah orang kafir zindiq”(Talbis Iblis hal. 75, Darul Fikr Li ath-Thiba’ah Wa an-Nasyr, Beirut, Libanon, cet. Pertama, 1421 H/2001 M, via Maktabah Syamelah)


Abul Farj Ibnul Jauzi rohimahullah berkata:


ليس على العوام أضر من سماعهم علم الكلام؛ وإنما ينبغي أن يحذر العوام من سماعه والخوض فيه، كما يحذر الصبي من شاطئ النهر خوف الغرق، وربما ظن العامي أن له قوةً يدرك بها هذا، وهو فاسد، فإنه قد زل في هذا خلق من العلماء، فكيف العوام؟!


“Tidak ada yang lebih berbahaya bagi orang awam daripada mendengarkan ilmu kalam (filsafat), maka selayaknya orang awan diperingatkan untuk mendengarkan dan membicarakannya sebagaimana seorang anak diperingatkan dari tepian sungai karena takut nanti daia akan tenggelam, mungkin orang awam mengira bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengetahuinya padahal dia (filsafat) itu rusak karena banyak ulama’ yang tergelincir karenanya, lalu bagaimana dengan orang awam?!” (Shoidul Khothir hal. 360, Tahqiq Hasan al-Musahi suwaidan, Darul Qolam, Damaskus, cet. Pertama, 1425 H/ 2004 M, via Maktabah Syamelah)


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:


والفلسفة هي باطن الباطنية، ولهذا صار في هؤلاء نوع من الإلحاد فقل أن يسلم من دخل مع هؤلاء في نوع من الإلحاد، في أسماء الله وآياته وتحريف الكلم عن مواضعه.


“Dan filsafat adalah inti kaum batiniyyah, oleh sebab itu terjadi penyelewengan dalam diri mereka. Maka orang yang bersama mereka jarang sekali yang selamat dari penyelewengan terhadap nama-nama Allah dan ayat-ayat-Nya serta dari merubah ucapan dari tempat-tempatnya (maksud-maksudnya).” (Dar’u at-Ta’arudh al-Aql wa an-Naql: 3/269, Tahqiq Dr Muhammad Rosyad Salim, Jami’atul Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyyah, al-Mamlakah al-Arobiyyah, cet. Kedua, 1411 H/1991 M, via Maktabah Syamelah)


Imam Dzahabi rohimahullah berkata:


بل قل من أمعن النظر في علم الكلام إلا وأداه اجتهاده إلى القول بما يخالف محض السنة، ولهذا ذم علماء السلف النظر في علم الاوائل، فإن علم الكلام مولد من علم الحكماء الدهرية، فمن رام الجمع بين علم الانبياء عليهم السلام وبين علم الفلاسفة بذكائه لابد وأن يخالف هؤلاء وهؤلاء


“Bahkan jarang sekali orang yang memperdalam ilmu kalam kecuali ijtihadnya akan menyebabkan dia mengeluarkan  pendapat yang menyelisihi kemurnian sunnah, oleh sebab itu para ulama’ salaf mencela mempelajari ilmu orang-orang dulu (ilmu filsafat) karena ilmu filsafat terlahir dari ilmunya para filosof dahriyyah (atheis) , maka barangsiapa yang menginginkan dengan kecerdasannya memadukan ilmu para Nabi alaihis salam dan ilmu para filosof maka pasti dia akan menyelisihi mereka semua baik Nabi atau filosof.”(Mizanul I’tidal:3/144, Darul Ma’rifah li ath-Thiba’ah Wa an-Nasyr, Beirut, Libanon, cet. Pertama, 1382 H/1963 M, via Maktabah Syamelah)


Ibnu Rojab Rohimahullah berkata:


فأما الدخول مع ذلك في كلام المتكلمين أو الفلاسفة فشر محض وقل من دخل في شيء من ذلك إلا وتلطخ ببعض أوضارهم


“Maka adapun memasukkan hal-hal itu ( ilmu agama) ke dalam ucapan para ahli kalam dan filosof adalah keburukan yang nyata dan jarang sekali orang yang mempelajari filsafat kecuali akan berlumuran sebagian kekotoran mereka.”(Fadlu Ilmi as-Salaf ala- al-Kholaf hal 6, Maktabah Syamelah)


Bukan hanya para ulama’ salaf saja yang memperingatkan keburukan filsafat, bahkan tokoh filsafat yang telah mencapai tingkatan tinggi dan tidak menemukan kebenaran di sana serta hanya mendapati kebingungan, mereka lalu membenci filsafat dan mengkritiknya dengan tajam. Berikut adalah ucapan para tokoh filsafat:


Fahrudin ar-Rozi berkata:

نهاية إقدام العقول عقال ... وأكثر سعي العالمين ضلال

وأرواحنا في وحشة من جسومنا ... وحاصل دنيانا أذى ووبال

ولم نستفد من بحثنا طول عمرنا ... سوى أن جمعنا فيه قيل وقالوا


Akhir dari mengedepankan akal adalah belenggu kepala

Dan kebanyakan usaha sekalian alam adalah kesesatan.

Ruh-ruh kami kesepian dalam jasad kami

Hasil dunia kami adalah rasa sakit dan kesusahan.

Dan kami tidak mendapat manfaat dari penelitian kami sepanjang umur

kecuali hanya mengumpulkan ucapan ini dan itu.


Dia juga berkata:


لقد اختبرت الطرق الكلامية والمناهج الفلسفية فلم أجدها تروي غليلا ولا تشفي عليلا، ورأيت أصح الطرق طريقة القرآن


“Sungguh aku telah menguji jalan ilmu kalam dan metodologi filsafat maka aku tidak mendapatinya bisa memuaskan dahaga orang yang haus dan menyembuhkan orang sakit, dan aku melihat  jalan yang paling benar adalah jalan al-Qur’an.”


Beliau juga berkata:


ولقد اختبرت الطرق الكلامية، والمناهج الفلسفية فما رأيت فيها فائدة تساوي الفائدة التي وجدتها في القرآن، لأنه يسعى في تسليم العظمة والجلالة لله، ويمنع عن التعمق في إيراد المعارضات والمناقصات، وما ذلك إلا للعلم بأن العقول البشرية تتلاشى في تلك المضايق العميقة،


“Dan sungguh aku telah menempuh jalan ilmu kalam dan metodologi filsafat, maka aku tidak mendapatkan faedah yang menyamai faedah yang aku dapati di dalam al-Qur’an, karena al-Qur’an berusaha mengakui keagungan dan kebesaran Allah dan melarang mendalami hal-hal yang mendatangkan penentangan dan kekurangan, dan tidaklah semuanya itu terjadi kecuali karena diketahui bahwa akal manusia itu lenyap di dalam  kekacauan yang dalam”(Tobaqot as-Syafi’iyyin hal. 780-782, Maktabah ats-Tsaqofah ad-Diniyyah, 1413 H/1993 M, via Maktabah syamelah)


Abul Fattah Muhammad bin Abil Qosim Abdul Karim as-Syahrostani dalam kitab “Nihayatul Iqdam fi Ilmil Kalam” berkata:


لقد طفت في تلك المعاهد كلها ... وسيرت طرفي بين تلك المعالم

فلم أر إلا واضعا كف حائر ... على ذقن أو قارعا سن نادم


Sungguh aku telah mengelilingi lembaga pendidikan semuanya.

Dan aku jalankan pandanganku di antara tanda-tanda itu.

Maka aku tidak melihat apa-apa kecuali hanya meletakkan telapak tangan orang bingung

Di atas dagu atau menggertakkan gigi penyesalan.”

(Wafiyatul A’yan : 4/274, Tahqiq Ihsan Abbas, Dar Shodir, Beirut, cet. Satu, 1971 M, as-Shifat al-Ilahiyyah oleh Syaikh Amman al-Jami hal. 168, al-Majlis al-Ilmi di UIM, al-Madinah al-Munawwaroh, KSA, cet. Pertama, 1408 H, via Maktabah Syamelah)


Abul Ma’ali al-Juwaini berkata:


يَا أَصْحَابنَا لَا تشتغلوا بالْكلَام فَلَو عرفت أَن الْكَلَام يبلغ بِي إِلَى مَا بلغ مَا اشتغلت بِهِ


“Wahai para sahabat kami janganlah kalian sibuk mempelajari ilmu kalam (filsafat), seandainya aku tahu bahwa ilmu kalam akan menyebabkanku seperti ini maka aku tidak akan sibuk mempelajarinya.”(al-Uluwwu li-Aliyyil Ghoffar hal. 258, Tahqiq Abu Muhammad Asyrof bin Abdul Maqsud, Maktabah Adwa’us Salaf, Riyadh, cet. Pertama, 1416 H/1995 M, Via Maktabah Syamelah)


Imam Ghozali berkata:


وأما منفعته فقد يظن أن فائدته كشف الحقائق ومعرفتها على ما هي عليه وهيهات فليس في الكلام وفاء بهذا المطلب الشريف ولعل التخبيط والتضليل فيه أكثر من الكشف والتعريف وهذا إذا سمعته من محدث أو حشوي ربما خطر ببالك أن الناس أعداء ما جهلوا فاسمع هذا ممن خبر الكلام ثم قلاه بعد حقيقة الخبرة وبعد التغلغل فيه إلى منتهى درجة المتكلمين وجاوز ذلك إلى التعمق في علوم أخر تناسب نوع الكلام وتحقق أن الطريق إلى حقائق المعرفة من هذا الوجه مسدود


“Dan adapun manfaatnya (filsafat) maka kadang dianggap bahwa faedahnya dapat mengungkap hakekat sesuatu dan mengetahuinya secara jelas, alangkah jauhnyahal ini karena ilmu filsafat itu tidak dapat memenuhi tujuan mulia ini, namun kengawuran (bertindak serampangan yang membahayakan) dan menyesatkan itu lebih banyak di dalamnya daripada mengungkapkan dan mengenalkan.  Ini semua jika kamu mendengarnya dari ahli hadist atau orang hasyawi mungkin akan  mengkhawatirkanmu karena orang-orang ini adalah musuh dari yang tidak mereka ketahui. Maka dengarkanlah semua ini dari orang yang telah berpengalaman dengan ilmu kalam (filsafat) lalu membencinya setelah betul-betul mengetahui dan mendalaminya sampai kepada tingkatan ahli filsafat serta telah melampaui batas dalam mendalami ilmu-ilmu yang sama dengan ilmu filsafat sehingga terbukti bahwa jalan menuju hakekat pengetahuan dengan cara ini (filsafat) adalah tertutup.”(Ihya’ Ulumiddin:1/97, Darul Ma’rifah, Beirut, via Maktabah Syamelah)


Oleh sebab itu, masih perlukah mempertahankan filsafat dan mengajarkannya, sedangkan filsafat hanya akan melahirkan generasi yang menentang terhadap Allah dan rosul-Nya atau menyelewengkan ayat-ayat Allah kepada pemahaman yang tidak dikehendaki Allah dan Rosul-Nya seperti generasi JIL, JIMM atau kaum liberal lainnya. Dan bahkan fisafat hanya akan melahirkan generasi atheis dan murtad. Wallahu a’lam bis showab.


Oleh Abu Hasan as-Syihaby

Pagi bernaung mendung di sudut barat laut kabupaten Lamongan Jatim, Ahad,14 Rajab 1436 H/ 3 Mei 2015 M

2 komentar:

  1. Balasan
    1. JIMM singkatan dari Jaringan Intelektual Muda Muh*mm*d**ah. Sebuah organisasi dalam ormas tersebut yang memperjuangkan lberalisme dan pluralisme agama. Organisasi ini dulu tidak diakui oleh ormas tersebut. Sekarang masih eksis atau sudah menjelma dalam bentuk lain aku kurang tahu.

      Hapus

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.